Princess Amara dan Biji Kedondong

Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah. Dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (kami) bagi orang-orang yang bersyukur.

[Al-A’raaf:58]

 

Princess Amara adalah anak yang pemarah. Dia tidak suka buah-buahan. Buah yang paling dibencinya adalah buah kedondong.

“Sebel, benang-bedang di dalamnya selalu nyangkut di gigiku, mana asam lagi” katanya sambil merengut.

Setiap kali merasa kesal dan marah, Princess Amara selalu meminta buah kedondong yang disimpan di gudang istana, lalu melemparkannya.

Suatu hari, seorang nenek tua datang dari Desa Kedondong. Desa Kedondong, letaknya jauuuh sekali dari Istana. Menurut Ratu Salsa, Ibunda Princess Amara, Desa Kedondong ada di Kepulauan Karimun Jawa. Untuk sampai ke istana, sang nenek harus berlayar berhari-hari. Disebut Desa Kedondong karena hanya pohon kedondonglah yang dapat tumbuh di desa tersebut. Pohon-pohon lain sebenarnya bisa tumbuh, tapi tidak bisa berbuah. Konon katanya, kedondong dari desa ini sangat manis.

Melihat kedatangan sang nenek yang berpakaian kumal, Princess Amara kesal, “Untuk apa nenek ke sini?” tanyanya.

“Nenek mendengar ada seorang princess baik hati yang sangat menyukai kedondong. Namanya Princess Amara. Apakah itu kamu, Princess?” kata nenek sambil memberikan hasil panen kedondong terbaiknya.

Mendengar hal itu, princess Amara marah besar. Sambil berteriak sangat kencang, ia pun melempar buah kedondong tersebut. Lemparan tersebut begitu kerasnya hingga saat menyentuh tanah. Kedondong yang ia lempar pun memantul, masuk ke dalam mulutnya yang sedang berteriak terbuka lebar. Tak dinyana, kedondong masuk hingga bersarang di kerongkongan Princess Amara.

Sang Nenek yang hatinya terluka pun kembali ke Desa Kedondong dengan perasaan sedih. Ia hendak kembali saja ke Desa Kedondong. Namun, ternyata sejak peristiwa pelemparan buah kedondong oleh Princess Amara, Sang Nenek tidak pernah kelihatan lagi batang hidungnya.

Warga desa kebingungan. Karena biasanya buah kedondong mereka sangatlah manis. Namun, sejak Nenek Kedondong menghilang dan tidak pernah bernyanyi lagi, buah Kedondong di halaman rumah mereka jarang berbuah. Kalaupun berbuah, akan terasa masam. Aneh sekali.

Hari-hari berlalu, bulan pun berlalu. Kedondong yang dilempar Princess Amara masih bersarang di kerongkongan Princess Amara. Rasanya sakit sekali. Sejak peristiwa itu, Princess Amara kehilangan suaranya. Ia tidak dapat bicara. Untuk makan pun, Princess Amara harus “meminum” bubur dengan sedotan. Sulit sekali.

Raja Iman, ayah Princess Amara, sangat kuatir. Tubuh Princess Amara semakin kurus dan lemah. Namun, sikap pemarahnya tidak berubah. Meskipun tidak dapat berbicara, Princess Amara tetap berbuat kasar kepada para pelayan. Raja Iman pun menyuruh para pengawal mencari Nenek Kedondong dan memintanya kembali ke istana. Sayangnya, keberadaan Nenek Kedondong tidak diketahui. Tak seorang pun warga yang pernah melihatnya lagi sejak peristiwa itu. Kemanakah Nenek Kedondong?

Setahun berlalu, kedondong di kerongkongan Princess Amara masih menyumbat kerongkongannya. Herannya, kedondong tersebut tidak pernah membusuk. Princess Amara yang tidak dapat bicara, kemudian mulai rajin sholat dan berdoa kepada Allah SWT.

“Allah, apa yang telah kulakukan? Semakin aku membencinya, kedondong ini membuatku makin tidak berdaya. Pertemukanlah aku dengan Nenek Kedondong. Aku ingin meminta maaf padanya,” pinta Princess Amara.

Para pengawal kembali disebar hingga ke pelosok desa untuk mencari Nenek Kedondong. Namun, ternyata hasilnya tetap nihil. Nenek Kedondong tetap tidak ditemukan.

Suatu hari, seorang anak dari Desa Kedondong sedang bermain di Sungai Hijau. Namanya Humaira. Disebut Sungai Hijau karena airnya selalu hijau. Kata Pak Asep, air di Sungai Hijau tetap hijau sepanjang waktu karena di dalamnya hidup ganggang hijau, makhluk superkecil yang kaya gizi. Tak jauh dari sungai tersebut, terdapat sebuah gua. Namun, keberadaannya tidak diketahui banyak orang karena tertutupi rindangnya pohon kedondong yang tak berbuah, namun lebat daunnya. Tak sadar bermain terlalu jauh, ia pun sampai di mulut gua.

“Lubang apa ini ya?” pikirnya.

Karena penasaran, ia masuk ke dalam mulut gua. Dan kagetlah ia menemukan seorang nenek sedang tertidur dengan wajah yang sedang tersenyum. Diusapnya kepala Sang nenek yang tertutup jilbab berwarna kecokelatan.

“Nek, bangunlah! Apakah nenek masih hidup?” ucapnya lembut.

Tak lama, nenek pun terbangun. Ia tak menyadari telah tertidur ratusan hari sejak peristiwa pelemparan kedondong di istana.

Setelah memberinya minum air sungai yang segar, sang anak bertanya, “Apa yang sebenarnya terjadi Nek? Mengapa nenek bisa tertidur selama itu? Bukahkah nenek adalah Nenek Kedondong yang dicari-cari Princess Amara?”

“Aku tidak tahu. Yang kutahu sepulang dari istana aku begitu sedih hingga tak menyadari sampai di tempat ini. Kemudian aku menangis dan tertidur hingga kau membangunkanku,” jawabnya heran.

“Allah Maha Kuasa ya, Nek” ucap Humaira, masih tak habis pikir mendengar cerita Sang Nenek.

“Nek, Princess Amara mencarimu. Ia tidak bisa bicara sejak saat nenek menemuinya dulu. Dapatkah nenek membantunya?” pinta anak tersebut.

Mendengar cerita Humaira, nenek bergegas ke istana menemui Princess Amara. Semua orang di istana mengenali sang nenek yang datang dan membuka gerbang istana lebar-lebar.

Berhadapan dengan Nenek Kedondong, “Princess Amara yang tidak lagi dapat bicara hanya dapat menunduk malu,”

*Nek, maafkan aku* tulisnya dalam sebuah papan kecil.

“Princess, lapangkan hatimu. Lapangkan pikirmu. Dan sayangilah makhluk Allah. Kedondong adalah makhluk ciptaan Allah,” kata Sang Nenek.

Selama beberapa bulan Nenek Kedondong menemani Princess Amara di istana. Ia membawa bibit kedondong dari rumahnya dan melatih Princess Amara berkebun. Setiap hari tanaman tersebut semakin membesar. Nenek mengajarkan Princess untuk mau berbicara dengan pohon kedondong setiap harinya. Bahkan, Nenek mengajarkan lagu yang sering ia nyanyikan di Desa Kedondong.

 

Kedondong, kedondong, kedondong… Segarnya, manisnya, sehatnyaa…

Kedondong, kedondong, kedondong… tumbuhlah, besarlah, gembiralah..

“Tanaman akan senang saat kau bicara dengan mereka. Apalagi jika kau bernyanyi untuk mereka. Tanaman adalah sahabatmu juga, Princess Amara. Oya, jangan lupa memberikan mereka makanan yang cukup dan menjaganya dari serangan penyakit,” Nenek Kedondong menjelaskan.

Sesekali Sang Nenek yang ditemani Humaira membuat lelucon kecil untuk Princess Amara yang membuatnya tertawa. Hari itu, lelucon buatan Humaira sangat lucu hingga Princess Amara tertawa sangat geli. Perutnya sakit menahan geli, ia pun terbatuk. Tanpa disadari buah kedondong yang bersarang di kerongkongannya keluar.

“Kau lucu sekali Humaira!” katanya.

Mendengar ucapan Princess Amara semua terdiam, kemudian saling menatap.

“Princess, kau kini sudah dapat bicaraaa! MasyaAllah, sungguh besar kekuasaan-Mu,” ucap Nenek Kedondong berbarengan dengan teriakan gembira Humaira.

Apa itu Kedondong?

Buah kedondong dapat dimakan langsung dalam kondisi segar, atau sering pula diolah menjadi rujak, asinan, acar. Jika membuka kulit dan daging buahnya, kamu akan menemukan biji tunggal yang berserabut. Daunnya seringkali dijadikan penyedap dalam pembuatan pepes ikan. Buah dan daunnya juga dapat dijadikan pakan ternak. Kayu pohon kedondong berwarna coklat muda dan mudah mengambang. Karena itu, terkadang kayu pohon kedondong dibuat perahu.

pohon2bkedondong
photo credit

Kedondong adalah tanaman buah yang tergolong ke dalam suku mangga-manggaan (Anacardiaceae). Dalam bahasa Inggris tanaman ini disebut ambarella. Di Indonesia dan Malaysia, disebut kedondong, di Filipina disebut hevi, di Myanmar disebut gway, di Kamboja disebut mokah, di Laos disebut kook kvaan, di Thailand disebut makak farang, sedangkan di Vietnam disebut co’c.

Di Indonesia, daerah penghasil kedondong antara lain Kepulauan Karimunjawa di Jepara, Jawa Tengah. Biasanya, kedondong berbunga pada bulan Juli-Agustus dan buahnya dapat dipanen sekitar bulan Januari-April.

12767276_10204378532503270_1065773871_n

 

Amelia Piliang, senang menulis dan makan. Istri dari seorang peneliti ionosfer. Ibu dari 2 anak, Renobayan dan Radium Akcaya. Saat ini tinggal di Nagoya, Jepang.

#ODOPfor99days

#day91

sumber gambar feature dari sini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s