Melatih Anak Berpuasa (1)

Bayan (5,5 tahun) tahun ini mulai belajar puasa. Terlambatkah? Hmm, debatable ya.. Karena pada dasarnya tidak ada kewajiban bagi anak yang belum memasuki usia baligh untuk berpuasa. Kasian? Hmm, apanya yang perlu dikasihani? Seperti yang kita ketahui, lingkungan tentu mempengaruhi fenotipe dan sifat karakter seseorang. Daan, kami memilih lingkungan yang Islami untuk membesarkan jiwa dan karakter anak kami. InsyaAllah..

Agar doski semangat puasa, “gema” Ramadan udah mulai dibunyikan 1-2 bulan sebelumnya. Ga heboh-heboh banget sih, hanya lebih sering berbicara dan berdiskusi dengan anak-anak tentang indah dan berharganya bulan tersebut. Semua orang Islam akan tumpah ruah ke mesjid dan penuh semangat untuk berpuasa.  Kadang juga berdiskusi  tentang mengapa kita perlu merasakan lapar dan haus, juga menahan perasaan marah. Yup! Bahasa hawa nafsu bukan jadi pilihan kami untuk memperkenalkan makna puasa. Sederhana aja, anak kami baru 5,5 tahun. Yah, kami gunakan bahasa sesuai umur mereka.

Saat bersepeda mengantarkan anak ke sekolah, kami ngobrol tentang puasa. Juga saat pulang sekolah, kami bersama menyanyikan lagu Frozen Ramadan.

“Ramadaaan! Ramadaaan! Bulan yang istimewaaa.. Ramadaaan! Ramadaaan! Gembiranya kurasaaa.. Ayolaah rebut, kelebihannyaaa.. Ayo semuaaaa, Ini kan hanya setahun sekali aja.”

Begitulah nyanyian kami di atas sepeda. Tanoshikatta!

Berbagai lagu juga dibuat, dikarang langsung, plus langsung hilang terbawa angin saat bersepeda. :-p Semua itu bertujuan agar anak-anak merasa gembira menyambut Ramadan.

Seminggu sebelum Ramadan, Bunda bertanya pada Bayan,

Apakah tahun ini mau mulai belajar puasa? Setengah hari aja.

Daan, Bayan pun menjawab mantab, “Ya, aku mau puasa.”

Nah, masalah selanjutnya adalah bagaimana mengkomunikasikan hal ini ke sekolah. Bingung? Iyaaalaah! Kami tinggal di Jepang. Saat ini juga mulai musim panas yang siang harinya lebih panjang dari malam hari. Subuh jam 02.52, maghrib jam 07.05. Memang sekarang belum terlalu panas sih, masih sekitar dua puluh tujuh derajat. Tapi, nanti puncaknya musim panas, Nagoya katanya bisa sampai 40 derajat di siang hari, Lumayan kaan? Buat anak-anak loh bu ibu…

Kebingungan saya, bukanlah apakah anak kami tetap akan berpuasa atau tidak. Tapi, bagaimana ia di sekolah? Karena bagi kami semua yang terlibat dalam pendidikan anak kami adalah satu tim. Dan, sekitar 5 hari sebelum berpuasa, saya menulis sebuah memo di buku penghubung sekolah. Saya mengambil momen saat sensee menanyakan mengapa saya ga bisa ikut dalam “Tasting food party” sekitar tanggal 9 juni.

Saya pun menjawab,

“Sensee, saya tidak bisa datang ke acara tersebut karena saat itu Ramadan, Pada bulan itu kami menjalankan puasa. Mulai tanggal 6 Juni, selama 1 bulan, kami akan berpuasa. Sejak matahari terbit hingga terbenam saya dan suami tidak makan dan minum. Bayan juga akan belajar berpuasa. Bayan akan makan di pagi hari, sebelum matahari terbit. Nanti dia akan makan dan minum lagi saat makan siang. Berpuasa lagi, dan akan makan dan minum lagi saat oyatsu time (waktu makan cemilan siang). Kemudian berpuasa lagi, hingga matahari terbenam (sekitar jam 7 malam). Saya harap sensee bisa membantu Bayan dan mengingatkannya untuk tidak minum selain waktu tersebut. Hal ini akan kita bicarakan saat bertemu sore harinya,” tulis saya.

Hal ini saya lakukan untuk memudahkan komunikasi. Mengingat sensee kurang bisa berbahasa Inggris dan saya kurang pandai berbahasa Jepang. Hihihi!

Sore harinya, saya kembali menjelaskan tentang puasa untuk menghindari salah paham. Sensee bertanya, apakah itu tidak apa-apa? Beliau kuatir dehidrasi dan sebagainya. Karena selain siang yang panjang, selama musim panas kegiatan di sekolah semakin banyak melibatkan hal-hal fisik. Juga mengingat Bayan sekarang sudah nencho, artinya kelas TK paling besar, menjelang SD. Di kelas nencho latihan fisik banyak dilakukan. Setiap hari mereka akan balap lari, naik turun tangga, dsb.

Saya menjelaskan, Bayan tidak kami paksa berpuasa. Ia sedang belajar berpuasa. Setiap harinya, setelah Bayan berlatih berpuasa, bersama-sama kami akan bicara tentang puasa hari itu. Kuat atau tidak, apakah kesulitannya, bagaimana mengatasinya, juga memutuskan apakah esok hari ia akan kembali berpuasa. Dia sedang belajar.

Sederhana saja, seperti belajar suatu materi. Jika sulit, bukan berarti tidak dikerjakan, kan? Tapi mencari cara yang “fun” dan kreatif untuk menghadapinya. Sesungguhnya, kesulitan itu akan “membesarkan” kita. Dan membuat kita menemukan bahwa setiap “challenge” akan membuat kita bisa meraih suatu achievement.  Bagi kami mengajarkan anak puasa, alquran, dan sholat tidak ubahnya seperti itu. Sulit? Iyaa, Tapi seperti kata Om Nietzsche “That which doesn’t kill us make us stronger”, melatih anak berpuasa yang ia sendiri mau menjalaninya, kenapa engga?

Kuat ga ya, kuat ga ya? Pikir saya dalam hati. Hal ini juga saya sampaikan pada suami. Jawab beliau sederhana aja. Kalau ga kuat, Bayan boleh membatalkan kok, nanti klo udah kuat bisa puasa lagi. Simple kaan? Yang penting, harapan kami, Bayan bersikap jujur. Dia makan minum atau engga, di luar waktu makannya. Karena kan hakekatnya puasa juga jujur. Ya kaaan? #kedipkedip

Hari pertama, Bayan yang biasa bangun agak siang, mulai belajar bangun sebelum subuh. Sayangnya, Bundanya malah yang telat bangun. Sunrise jam 02.52, Bunda baru bangun jam 02.15. Plus, ternyata nasi belum dimasak dan habis bis #tepokjidat# Untunglah kami punya tetangga baik hati dan tidak sombong yang mengantarkan nasi putih. Ya Allah, semoga Allah membalas kebaikan tetangga kami itu. Amiin. Bayan pun makan hingga lewat waktu subuh. Ya namanya juga belajar yaaa.. Yang penting bocah ini belajar sahur dulu. Makan dan minum yang cukup, tidur cukup, sehat, dan puasa pun bisa berjalan dengan “fun”.

Alhamdulillah, sesuai rencana,  hari pertama puasa Bayan bisa belajar puasa setengah hari. Hanya hari itu ternyata Bayan sempat lupa, meminum air saat dijemput Buya naik sepeda. Lupa, gapapalah. Rezeki itu mah J

Hari kedua juga bisa berjalan sesuai rencana. Hanya Bayan bercerita bahwa setelah latihan lari, sensee menyuruh Bayan meminum air agar tidak dehidrasi. Saya bilang ga apa-apa. Sensee menyuruh itu karena Bayan baru berlatih lari, wajar.

Sebenarnya tujuan kami mengenalkan puasa agar Ramadan tahun ini lebih berkesan. Karena ia sudah mulai besar. Kami juga ingin membuat lingkungan yang baik untuknya. Dan membuat ia memahami apa yang kami lakukan. Kami sholat, ia juga. Kami membaca Al-quran, ia membaca iqro. Kami puasa, ia bisa mencoba belajar berpuasa. Kami adalah ia. Ia juga adalah kami. Ceilee!

makanan
Masakan ini sungguh menggoda iman. Ga cuma imanmu, Nak. Iman Bunda juga hihihi!

Oya, bu ibu. Sepulang sekolah hingga menjelang Maghrib adalah waktu yang agak berat untuk Bayan. Karena wangi masakan mulai menyeruak, perut pun merasa itu sebuah kode. Plus, adiknya yang masih 1,5 tahun mondar mandir nyobain masakan Bunda. Hahaha!

Bagaimana dong? Kami menguatkan motivasinya dengan mengatakan bagaimana kegembiraan seseorang yang berbuka hanya bisa didapatkan jika ia berpuasa. Akca ga puasa, jadi dia ga tau rasany, nikmatnya makanan yang dimakan saat berbuka. Sebentar lagi ya, Nak! Gambare! Dan memang iya, saat berbuka ia makan dengan lahap dan gembira. Sampai akhirnya mengantuk. Perjuangan pun berlanjut. Sholat, baca iqro, dan hapalan juga perlu dilakukan dengan senang hati. Bagian dari melawan hawa nafsu.

Semoga kita bisa melewati hari-hari lainnya hingga akhir Ramadan ya, Nak! Teruslah bergembira saat berpuasa. #ganbarimasu

perpus nagoya 4

 

Amelia Piliang, emak rempong beranak dua yang hobi menulis. Saat ini ikut suami tinggal di Nagoya

#ODOPfor99days

#day93

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s