Belajar Dari Yamato Tanooka

Kalau ditanya, berita apa yang paling heboh di minggu terakhir di bulan Mei di Jepang, kamu tau ga? Hmm.. Berita tim voli Jepang yang gagal lolos pra olimpiade di kandang sendiri? Ooh kamu salah. Eh, itu kamu ga tau ya? hihihi! Gosip apakah Selera Bento akan buka atau tutup di Bulan Ramadan? Ahaay! itu ga mungkin tayang di NHK yaah #kedipkedip

Dan, berita yang paling heboh sekaligus mengurai emosi jiwa itu adalah hilangnya anak berumur 7 tahun setelah “ditinggal” orang tuanya saat dimarahi, bernama Yamato Tanooka, sejak hari Sabtu lalu, per tanggal 28 Mei 2016. Begitu nonton berita ini di hari Minggu-nya, saya heran bin marah bin bengong bin galau, tapi untungnya ga bin titan ;-p

yamato 9
Berita Yamato Tanooka yang muncul di NHK

Yamato Tanooka. Alias Yamato Kun. Nak, Nak.. Alhamdulillah kau selamat. Kisahmu luar biasa bikin bengong.

“My excessive act forced my son to have a painful time. I deep apologize to people at his school, people in the rescue operation, and every body for causing them trouble,” begitulah kalimat yang telah diartikan dalam bahasa Inggris yang saya baca di BBC News malam ini. Kalimat itu, dikeluarkan Takayuki Tanooka (ayah Yamato Kun) dengan suara parau menahan emosi sekaligus rasa bersalah.

yamato 5
Takayuki Tanooka, ayah Yamato Kun yang dikutuk publik jepang mengutarakan rasa bersalahnya.

Gimana ga ngerasa bersalah? Anak berumur 7 tahun itu dimarahi ayahnya saat diperingati agar ga melempar batu saat acara keluarga. Sebagai hukuman atas tindakannya, Sang Ayah (yang berada di dalam mobilnya) meninggalkan anak yang sedang menangis tersebut sejauh sekitar 500 m. Daan, itu ternyata terlalu jauh hingga si anak kebingungan dan (ternyata selanjutnya) hilang. Ya Allah! Publik Jepang sangat marah terhadap ayahnya anak ini. –> ini kita bahas nanti yaa, Mak!

Berhari-hari kami yang ga ada hubungan keluarga dengannya menunggu berita ini. Kami di Nagoya, dia di Hokkaido. Ga pernah ketemu sama sekali. Tapi, ya Allah. Ikut takuut! Katanya, hutan tempar anak itu menghilang adalah rumahnya beruang cokelat yang tingginya bisa sampai 2m. Ampun dijee! Belum lagi hewan-hewan buas lainnya. Udah kebayang, ular, harimau, buaya, yah segala macem deh. Kebayang, anak itu malam-malam cari jalan, kakinya kesangkut ranting, jatuh ke jurang, dan ini, dan itu. Ya Allah! Kebayang dia ketakutan menghadapi malam-malam yang dingin. Kamu tau? Hokkaido itu di Utara Jepang. Jadi, walaupun sekarang udah mau musim panas, tetep aja di sana dingin. Malah katanya, di gunung dekat hutan Yamato Kun hilang, masih ada salju. Dengan hanya mengenakan T-shirt dan celana jeans, ia berjalan mengarungi hutan berhari-hari dengan suhu udara yang bisa sampe 9 derajat di malam hari. Jadi kebayang dong dinginnya? Anak berumur 7 tahun hilang di hutan karena dimarahin Bapaknya, apa yang ada di hati emak-emak rempong seperti saya? Kebayang dong ya, Mak! Gggrrrhhh! Pengen makan orang jadinya sayaaah 😦

yamato 4
Di bagian bertanda X Yamato Kun hilang, di barak militer yang berada dalam area merah Yamato Kun ditemukan oleh seorang tentara.

7 Hari berlalu, ga ada berita Yamato Kun ketemu. Sedihnyaaa, hiks! Masih hidup ga ya itu anak? Hingga pagi ini, katanya, jam 8 pagi Yamato Kun ketemu. Ga luka, tapi kelaparan. Sehat? Yaah, sehat ga ya? Masih syok pastinya yaa.

Dimana Yamato Kun ditemukan?

Mak, Yamato Kun ditemukan oleh salah seorang tentara sekitar 5,5 km dari tempat hilangnya anak itu. Katanya, tentara tersebut bukanlah anggota tim pencarian Yamato Kun yang berjumlah 180 orang dan beberapa anjing pelacak. Dia ditemukan di sebuah barak militer yang jauuuh dari hutan tempat ayahnya meninggalkannya.

yamato 6
Ini lho tim pencarian yang heboh mencari Yamato Kun hampir seminggu

Yamato memberitahu polisi kalau dia jalan sendiri ke barak militer itu setelah orang tuanya meninggalkannya. Dia berjalan ke sana ke sini mencari tempat yang “aman”. Ia minum untuk bertahan hidup. Karena memang ga ada makanan untuk dimakan. Dia tidur di atas matras yang disusunnya agar ga terlalu kedinginan. Dia ditemukan dalam kondisi hipotermia. #matabasah

Tentunya Yamato Kun ditemukan karena kehendak Allah SWT. “Keberuntungan” ini ternyata berbalut “kebijaksanaan” alias sensitivitasnya Yamato Kun. Teman-teman, sekali lagi, Hokkaido adalah rumahnya beruang cokelat. Horor bin horor kaan? Tapii, anak berumur 7 tahun ini dengan perasaan sedih (karena abis dimarahin Ayahnya), juga takut (karena ditinggal sendirian di tengah hutan) masih bisa mencari jalan. Dia menyusuri jalan-jalan yang pernah dilalui mobil di hutan itu. Dia menyusuri area-area terbuka melewati jalan-jalan yang menanjak dengan kaki kecilnya hingga akhirnya bisa menemukan dan mendefinisikan barak militer sebagai sebuah tempat yang aman. Ya Allah!

Yamato Kun. Nak, Nak. Bagaimana engkau bisa berpikir selogis itu saat ketakutan? Kamu berjalan 5,5 km tanpa tahu arah. Gelap, lapar, haus, takut. Setelah menemukan tempat yang aman itu, Yamato Kun mengambil dan menyusun kasur agar bisa tidur. Ia juga berupaya menghidupkan pemanas listrik. Untuk mengganjal perutnya yang lapar, ia meminum air.

“Ga ada sesuatu pun yang bisa dimakan,” katanya.

Bahkan, pencarian terhadap anak ini pun berlangsung cukup sulit. Medan berupa hutan itu dipenuhi semak belukar. Di tambah lagi hujan lebat yang membuat pencarian semakin sulit. Masih terbayang tayangan di televisi yang menayangkan wajah sang nenek yang mencari dan memanggil cucunya di hutan sambil mengelap air mata.

“Keajaiban” adalah kata yang mewakili ditemukannya Yamato Kun.

Dia yang berumur 7 tahun itu bisa logis saat berpikir dalam ketakutan, itulah pertanyaan besar buat saya. Bagaimana ia bisa seberani itu luntang lantung di dalam hutan? Bagaimana ia berusaha “eling” dengan mencari jalan yang biasa dilalui mobil? Bagaimana ia bisa sampai ditempat sejauh itu, 5,5 km di dalam hutan boo! Apakah pola didik di Jepang ini membuat anak-anak menjadi logis dan tetap “eling” kecerdasan spasialnya?

Pada kasus hilangnya Yamato Kun saya juga belajar. Semuanya memang ada yang di luar pikiran kita. Si Ayah yang membawa meninggalkan Yamato Kun mungkin berpikir jarak mobilnya berjalan meninggalkan anaknya ga terlalu jauh, tapi kok ternyata kejauhan dan anaknya malah hilang? Si anak yang di banyak pikiran orang mungkin sudah “krek” dihabisi hewan buas eh kok ternyata bisa menemukan tempat aman, menemukan bahwa dengan air ia bisa bertahan, menemukan cara untuk senantiasa hangat dan kering. MasyaAllah.

Seperti yang saya bilang sebelumnya, publik jepang mengutuk perbuatan Bapake. Kamu gimana? Eiits! Jangan dulu semena-mena menyalahkan ayahnya Yamato Kun ini dan itu. Yaelaaah! Belum pernah liat ya, di Jepang ini orang tua biasa begitu. Anak jatuh ya cuma ada kalimat, “Ii desuka?” alias “gapapa kan?”.

Saya kok yakin ya Ayahnya Yamato Kun sebenarnya ga niat ninggalin anaknya di hutan. Menyoal dia akan dihukum karena keteledorannya, itu mah hal lain yaa.. Tapi, memang bapak-bapak sama emak-emak di Jepang memang “rada kejam” dalam mendidik anaknya agar mandiri.

yamato 3
Tim medis sedang berupaya memulihkan cidera “kecil” yang dialami Yamato Kun

Semoga Yamato Kun cepat pulih ya dari trauma. Meskipun hanya menderita luka ringan, pasti ada luka yang besar di hati anak ini akibat kejadian luar biasa tersebut. Emak dan Bapak, ati-ati kalau marah sama anak yaa.. Bisi kebablasan, nanti menyesal. #ngemeng sama diri sendiri.

“Sometimes even to live is an act of courage.”–Seneca

“Fa bi ayyi ‘alaa i rabbikumaa tukadzzibaan, maka nikmat Tuhanmu yang manakah lagi yang kamu dustakan?” (Qs: ArRahman)

perpus nagoya 4

Amelia Piliang, penulis yang juga pedagang. Pedagang yang juga penjelajah. Penjelajah yang juga pejalan. Pejalan yang juga seorang Ibu. Ibu dua anak yang juga seorang istri. Istri yang manja dan rajin menabung. –> ga nyambung

#ODOPfor99days #day95

sumber gambar feature dari sini

 

 

Advertisements

2 thoughts on “Belajar Dari Yamato Tanooka

  1. Waaah kak Amel, kemaren2 nonton beritanya pas dia hilang eh tapi gak sempet lihat berita lagi. Ternyata udah ketemu, alhamdulillah yaa.. iya nggak pernah kepikiran sampe gitu :” Kalo saya hilang umur segitu nggak kepikiran deh kayaknya

    Like

    1. Pasti ada sesuatu yang bs kita pelajari nis.. Tentang mendidik Anak di Jepang ini. Karena Ternyata “buah”nya seperti itu, keberanian dan kemampuan berpikir logis yang sangat berguna untuk survival.

      Alhamdulillah yaaa, seneng mba Amel juga klo anak itu ktmu

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s