Aku Suka Ngaca!

Bunda dan Kakak senang pergi ke toko serba 5000 yang letaknya tidak jauh dari rumah. Selain murah, pernak pernik yang dijual juga lucu dan bagus-bagus. Kakak paling senang membeli ikat rambut berwarna merah jambu. Terkadang, kakak juga membeli tas plastik untuk meletakkan peralatan menggambarnya. Satu hal lagi, di Toko Serba 5000 ada sebuah kaca besar yang seru. Kakak dan adik sangat suka berdiri di depannya.

“Bun, lihat deh! Adek cium-cium kaca tuh, sambil ketawa-ketawa.”

“Iiih adek, lucu banget sih! Tapi iler adek belepotan di kaca tuh. Nanti kacanya jadi kotor”

ngaca 1

“hehehe! Kakak juga mau ngaca ahh!”

“Dua mata saya, hidung saya satu. Dua kaki saya, pakai sepatu baru. Dua tangan saya, yang kiri dan kanan. Satu mulut saya…,” Tiba-tiba, Kakak yang bernyanyi sambil menunjuk bagian tubuhnya sesuai lirik lagu, berhenti.

“Bun, Aku kan angkat tangan kiri. Eh, kok yang keliatan keangkat (di kaca) malah tangan kanan. Aneh deh. Nih, Bun liat deh. Tangan kirinya aku angkat ya.. Kok di kaca malah tangan kanan yang keangkat?” komentar Kakak sambil menggaruk kepalanya.

“Itu Kakak garuk kepala, pake tangan apa?” tanya Bunda.

“kanan, Bun”

“Tapi kok di kaca Bunda lihatnya Kakak garuk pake tangan kiri ya?”

“Engga, tangan kanan kok. Aneh deh”

Mendengar komentar anak sulungnya, Bunda hanya tertawa sambil memotret Kakak dan Adik yang sedang mengaca.

ngaca 2

“Itu namanya cermin datar Kak. Kalau kita ngaca di depan cermin datar memang begitu. Bayangannya sama persis sama orang atau benda yang ngaca. Tapi yang kanan jadi kiri, yang kiri jadi kanan. Coba Kakak lihat Adek yang lagi ngaca tuh, dia kan pegang kaca pake tangan kiri, tapi seakan-akan bayangannya pegang kaca pake tangan kanan. Kalau Kakak masih bingung, nanti kita omongin lagi di rumah ya Kak. Sambil baca buku Kakak,”

“Ini namanya cermin datar Bun?”

“Iyah”

“Bukannya kaca Bun?”

“Iya, kadang orang bilangnya bukan cermin datar, tapi kaca. Tapi maksudnya sama.”

***

Sesampainya di rumah, Kakak mencuci kaki dan tangannya, makan siang, dan sholat zuhur bersama Bunda. Tak lama setelah itu, Kakak pun mencoba bando yang dibelinya sambil berdiri di depan kaca.

“Bun, aku suka bando ini. Pitanya besar”

“Iya, pitanya di kanan ya, Kak” jawab Bunda.

“Bukan, di kiri”

“Kanaaan!”

“Kiriii!”

Bunda mengambil Bando di kepala Kakak dengan lembut.

“Ini lho Kak, pitanya di kanan,”

“Lho, tadi aku lihat di kaca pitanya ada di kiri kok, Bun”

Bunda tersenyum kecil.

“Kakak ingat tadi waktu Kakak dan Adik ngaca di Toko Serba 5000? Sama kan? Waktu Kakak angkat tangan kiri, eh malah yang keliatan di kaca malah tangan kanan yang keangkat”

“He eh”

“Gitu Kak, kalau kita ngaca di cermin datar. Saat Kakak bercermin, bayangan wajah Kakak yang ada di belakang cermin itu berhadap-hadapan dengan Kakak seakan-akan kembar. Tapi, posisinya berubah. Tangan kanan menjadi tangan kiri. Telinga kiri menjadi telinga kanan. Begitu juga dengan seluruh anggota badan Kakak, semuanya kayak kebalik kanan jadi kiri, dan sebaliknya.”

“Kak, kenapa kalau kita ngaca di kaca ya?”

“ga tau”

“Maksud Bunda, kenapa ngacanya bukan di kaca yang kayak kaca jendela. tapi ngaca di depan cermin datar. Kenapa gitu ya? Ayah tau ga kenapa begitu yah?

“Sebenarnya cermin itu dibuat dari kaca yang sama dengan kaca jendela Bun, tetapi di bagian belakangnya dilapisi logam tipis mengilap. Jadi, ga tembus cahaya. Coba deh Kakak ngaca. Bayangan wajah Kakak ada di belakang cermin itu, berhadap-hadapan dengan Kakak seakan kembaran yang persis sama. Kaka dan bayangan Kakak sama besar, sama tinggi, sama tegak. Bedanya, posisinya berubah. Ya seperti yang Bunda terangkan tadi.” Ayah menjelaskan.

“Iya, Yah! Benar! Nih kalau aku angkat tangan tingginya juga sama ya!” jawab Kakak dengan mata berbinar.

“Coba Kakak kedip-kedipkan mata deh. Pasti bayangan Kakak di cermin juga kedip-kedip,” Ayah memberi ide.

“Hihihi! Iya Yah. Aku pegang sisir pake tangan kanan, eh keliatannya malah kiri. Terus, kalau Aku lompat, dia (bayangan, red.) juga lompat. Kalau Aku angkat kaki juga begitu!”

ngaca 5
“Aku pegang rambut pake tangan kiri, tapi bayanganku pegang rambut pake tangan kanan. Omoshiroi ne!” photo credit

***

Bunda, permukaan cermin datar sangat halus dan mempunyai permukaan yang datar pada bagian pemantulannya. Biasanya cermin datar terbuat dari kaca. Di bagian belakangnya dilapisi logam tipis mengilap sehingga tidak tembus cahaya.

Ketika kita bercermin, bayangan wajah kita ada di belakang cermin tersebut berhadap-hadapan, seakan kembaran yang persis sama. Ukuran tubuh dan bayangan kita di cermin datar sama tegak, sama tinggi, dan sama besar. Akan tetapi, posisinya berubah. Tangan kanan menjadi tangan kiri. Telinga kiri menjadi telinga kanan. Begitu pula dengan seluruh anggota badan kita. Selain itu, saat bercermin bayangan kita juga ga akan pernah dapat dipegang atau ditangkap. Bayangan seperti ini disebut bayangan maya.

ngaca 3

Saat anak bercermin, berilah stimulan agar anak memperhatikan bagian tubuhnya dengan apa yang tampak pada cermin. Biarkan mereka menemukan seru dan asiknya bercermin. Sekaligus menemukan fakta bahwa bagian kanan pada tubuh mereka akan tampak sebagai bagian kiri pada bayangan yang tampak di cermin, atau sebaliknya.

ngaca 4.jpg
Cobalah mengeksplore gerakan saat bercermin, agar anak memahami perbedaan kanan dan kiri benda dan bayangan photo credit

“Without reflection, we go blindly on our way, creating more unintended consequences, and failing to achieve anything useful” ~Margareth J. Wheatley

amel

 

Amelia Piliang, penulis dan penyuka masakan Indonesia. Tinggal di Nagoya, Jepang.

#ODOPfor99days #day68

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s