Mengajari Bayi (yang lambat) Merangkak

Saya posting ulang, siapa tau ada yang membutuhkan tips ini.

Sdh 8 bulan, Radium Akcaya belum jg merangkak. Hadeeeh, stres jg nih eikeh. Gimana engga? Walaupun ga baik membanding2kan anak, tp ya naluriah kali yaah, tetep aja kebayang-bayang Bayan 7,5 bulan udah mulai merangkak. Apalagi ngebandingin sm anak2 lain, pasti ada yang lebih cepet lagi yaah dari doski.

Ya, Akca memang perkebangan motorik kasarnya agak telat. Walaupun udah miring-miring sejak umur 1 bulan, toh baru umur 6 bulan doski tengkurep bolak balik. Agak telat sih yaa, tapi ternyata masih wajar. Sejak bayi merah, bocah ini emang agak endut dibandingkan bayi-bayi lainnya. Saat usinya 7 bulan beratnya sudah 9 kg. Kalau dilihat di tabel berat badan, ukuran Akca termasuk berat badan berlebih, tp bukan obese yaah… Ditambah lagi, anak ini emang sejakbayi merah udah gemesin bin cakep gimanaa gt (kata Emaknye :-p). Jd walaupun berat, Bapake dan Mamake seneng banget gendong, dan sering lupa untuk ditengkurepin pas tidur dan ditaro dilantai pas bangun. Jadi, walaupun sudah mendidik anak kedua, ternyata ga membuktikan kepakaran dlm mendidik anak juga yaah.. Semua (tetep) butuh belajar#ganbarimasu

Nah, karena sebab-sebab itulah kami “curiga” Akca jadi telat merangkak. Dulu, kami pikir doski ga mau merangkak. Buktinya, tiap kali ditaro di lantai, doski nangis kejeer kayak habis dipukulin Ibu tiri. Daaan, berhubung awalnya kami masih “paranoid” dengan kondisi lingkungan yang katanya harus hening klo tinggal di Jepang, baru aja si bayi nangis, pasti langsung kami gendong. Alhasil, ini bocah belum juga merangkak walaupun umurnya udah 8 bulan.

Saya coba membaca beberapa artikel, eh malah makin stres. Katanya, kami perlu waspada klo anak lewat 8 bulan blm merangkak. Bahkan ada yang mengatakan anak tersebut perlu difisioterapi segala. Apa ga stress tuh?!? Beragam jurus udah dipake. Bayi ditaro di lantai, mainan kesukaan ditaro di depan supaya bayi bergerak. Eh, doski malah nangis kejer, tantrum, boro-boro mau ngeliat mainan -____- #ngeeek

“Belajarlah langsung dari bayimu”, begitu kata orang bijak. Akhirnya, itulah yang saya lakukan. Akca suka banget berada di dekat Bunda, dipeluk Bunda.

“Oke. Sini, Akca tengkurep aja di atas perut Bunda selama setengah jam yaa..”, ucap saya kepadanya.

Jadi, Emaknya aja yang posisinya tiduran di lantai, jadi Akca bisa “akrab dengan lantai” dulu. Tujuannya, supaya bayi terbiasa dengan posisi merangkak. Karena pas diletakkan di perut Ibu, Si bayi akan menggerak-gerakkan kakinya tanda berontak. Nah, gerakan kaki ini bagus untuk memperkuat otot kakinya y masih belum kuat. Hal ini dilakukan beberapa kali dalam sehari.

Pas pertama dipraktekkin, nangis dia. Maunya duduk, ga mau tengkurep. Padahal untuk bs merangkak, ya harus tengkurep dulu doong. Lha,doski? Baru ditaro nangis kejer, ga mau angkat ****at sama sekali. Stuck aja gitu. Hadeeeh!#manjanginsumbukompor

Ya sabar aja deh. Dicoba terus aja,. Di awal-awal pengenalan gerakan merangkak ini, frekuensinya agak dijarangin, sambil diajak becanda. Jika sudah nyaman, tiap hari frekuensinya ditambah. Setiap harinya, kami juga mencoba meletakkan bayi di lantai. Gapapa nangis, tapi dijaga agar tidak sampai mengamuk. Kalau si bayi mengamuk, bocah ini gendong. Kalau udah mulai nyaman baru deh ditaro lagi, dan seterusnya, dan seterusnya.

Apalagi stimulan yang dapat kita berikan? Benar, role play seakan-akan kita juga bayi yang merangkak atau kambing yang jalannya merangkak, juga bagus untuk menciptakan “lawan” bagi bayi merangkak. Saya mencoba lagi tips ini walaupun sebelumnya pernah gagal. Karena bagaimana pun, anak di bawah 5 th memnga suka melakukan imprint perilaku oarng di sekitarnya. Hal itu kami lakukan terus menerus sampai dia mulai nyaman dengan posisi merangkak.

Setelah 1 bulan mencoba, akhirnya di usia 9.5 bulan Akca mau merangkak. Gapapa sih agak telat, yang penting merangkak #menghiburdiri

“Kenapa perlu bgt merangkak? Banyak kok anak-anak yang waktu bayinya lompat fase, ga merangkak langsung berdiri.”

Nah, ini dia. Konsultasi dengan dokter anak terpercaya, pengalaman anak pertama, dan membaca beberapa literatur membuat saya yakin kalau benar bahwa merangkak itu mempengaruhi motorik halusnya nanti setelah besar. Kegiatan menulis dan koordinasi gerak terbangun dari skill merangkak. Karena itu, anak ga perlu cepat-cepat jalan. Be patient. “Anak kita perlu minimal 3 bulan melatih kemampuan merangkaknya sebelum bisa berjalan,” jelas dokter anak langganan saya.

So, ayo Akca! Merangkaklah! Bunda bangga, Akca udah melewati fase cengeng-cengeng bayi ketika demo antimerangkak.. Hihihi! Ternyata, asik kan merangkak itu, Nak?

Sekarang emaknya harus waspada. Ulekan, adonan, kotak susu, semuanya ga boleh sembarangan ditaro di lantai. Bocahnya udah gesit. Alhamdulillah! Btw, emaknya juga perlu belajar merangkak untuk bisa belajar dari berbagai pengalaman mendidik anak.

“You need to spend time crawling alone through shadows to truly appreciate what it is to stand in the sun.” –Shaun Hick

perpus nagoya 4

Amelia Piliang, Ibu dua anak yang ikut suami tinggal di Nagoya, Jepang.

#ODOPfor99days #day 45

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s