Dikejar-kejar Tagihan Pensiun ><

Bagi kami para pelajar di Jepang, biaya hidup di Jepang sangat tinggi, beberapa kali lipat biaya hidup kami di Indonesia yang kami jalani sebelumnya. Namun, sebagai pelajar, kami mendapatkan beberapa kemudahan dalam hidup. Karena menurut sebagian besar orang Jepang, hidup seorang pelajar itu “taihen” alias “berat” #iyaapaiya

Kemudahan apa saja yang kami dapatkan di sini? Saat membeli kartu langganan kereta (tekiken), kami mendapatkan harga khusus. Lumayan, beberapa ribu yen di bawah harga normal. Asik kaan? Saat mendaftarkan anak kami di TK, kami memperoleh subsidi silang dari keluarga lain yang “lebih mampu”. Bahkan, uang pensiun yang harusnya kami bayar, bisa bebas loh!

Tapi eh tapi, kenapa beberapa bulan ini terus saja datang tagihan uang pensiun ke kotak pos mansion kami. Pertama, tagihan diperuntukkan bagi suami saya. Dan, akhirnya beliau mengurusnya dengan bantuan seorang teman Jepangnya. Akhirnya, kami bebas dari tagihan pensiun. Tapi kok beberapa bulan kemudian, malah datang tagihan buat saya, yang notabene istri pelajar. Logikanya kan, kalau hidup pelajar aja taihen, apalagi istri pelajar? Iya apa engga? Hihihi! Ga segitunya siih!

Beberapa bulan terakhir tagihan selalu datang ke kotak pos. Awalnya sih kami cuekin ajah. Agak males ke kantor kecamatan. Mau pergi sendiri bahasa Jepang msh epret-epret (bahasa gue!). Mau minta tolong temen, malu. Kebanyakan minta tolong, hihi! Tapi lama-lama bête juga. Apalagi pas lihat tagihan terakhir sekitar 70.000 yen. Apaah? Ga mau bayaar!

12825238_10205661731016728_1443823303_n
surat tagihan yang datang ke rumah

Akhirnya, saya berkonsultasi dengan seorang teman yang udah belasan tahun di Jepang. Dan doski berbaik hati membantu menelepon kantor urusan pensiun. Setelah telepon itu, kami tahu bahwa saya harus ke kuyakusho dengan membawa beberapa dokumen.

Apa aja yang perlu dibawa? Gampang loh! Saya cuma perlu bawa Residence Card (zairyu kaadoo) dan buku pensiun (nenkin techo). Kayak gini ya gambarnya:

12782397_10205661736816873_128723452_n
zairyu kaado (atas) dan nenkin techo (bawah)

Eng ing eng! Setelah mengulur waktu selama 4 hari karena (sebenarnya) ga pede ke kantor kecamatan sendirian, saya pun bertekad ke kantor kecamatan. Kantor kecamatan tempat saya tinggal terletak di atasnya stasiun Mizuho Kuyakusho. FYI, “Mizuho Kuyakusho” sendiri berarti kecamatan Mizuho. Sesuai namanya, kecamatan ini nempel dengan stasiun tersebut. Jadi, begitu keluar dari stasiun, kamu akan langsung menemukan marka yang menunjukkan elevator menuju kantor kecamatan tersebut. Bahkan, sebelum masuk lift terdapat papan yang menjelaskan letak setiap bagian kecamatan tersebut. Nah, dari marka tersebut saya tahu bahwa saya harus menuju ke lantai 1, ke bagian pension service.

12788176_10205661733416788_38468415_n.jpg
praktisnya jalan menuju kantor kecamatan. Naik kereta aja, ga perlu naik ojek. kantor kecamatannya “nyambung” sama stasiun.

Setelah naik lift, saya langsung sampai di depan kantor kecamatan. Ini bagian luarnya yaah!

12822144_10205661733496790_4585153_n.jpg
pintu otomatis ini menuju ke bagian pensiun dan kependudukan

Saya pun langsung menuju bagian yang mengurus pensiun. Kok tahu? Iyalah, kan ada tulisannya segede-gede gambreng pake huruf latin. Hihi! Jadi mata kita jangan males untuk mencari tahu yaa…

Sampai di bagian tersebut, saya mencoba untuk memperkenalkan diri, seperti ini:

“Konnichiwa, Amelia desu. Watashi no shujin wa ryuugakusei desu. Nenkin no menjo o shisei shi ni kitan desu kedo.”

Artinya apaah?

“Selamat siang, saya Amelia. Suami saya pelajar asing. Saya datang mau mengurus prosedur keringanan pembayaran pensiun.”

Eits! Jangan kagum dulu dan berpikir kalau saya pinter bahasa jepang yaah! Itu semua saya baca dari contekan yang dikasih temen saya yang kece. Seorang robot kucing masa depan yang datang dari tanah jawa. Siapa dia? RAHASIA lah yao! Habis baca kalimat itu, saya udah kebayang bakalan ditanyain macam-macam sama petugasnya. Apalagi beliau udah tua, pasti ga bisa bahasa Inggris. –> underestimate orang, ga bener yah iniii!

Ternyata ga segitunya loh. Apa yang saya pikirkan salah semua. Beliau, Ibu-ibu Jepang paruh baya yang bersahaja, berusaha membantu saya mengecek dokumen yang saya bawa, mengisi formulir, plus terakhir menjelaskan bahwa setelah ini saya bebas dari tagihan pensiun. Tagihan pensiun saya nol. Beliau menjelaskan pake bahasa jepang plus bahasa tubuh. Dan, sepertinya kuatir saya ga paham, beliau mem-print sebuah lembar penjelasan berbahasa Indonesia. Duh, baiknya ibuuu! Ga sampai 15 menit, saya terbebas dari tagihan pensiun sementara waktu.

12782543_10205661730656719_1740110783_n.jpg
formulir yang harus diisi

Whaat?! Sementara waktu? Iya, karena ternyata keringanan pensiun harus diperbarui setiap tahunnya. Sebisa mungkin diproses sebelum bulan juli, kalau ga mau dapat tagihan lagi. Qiqiqi! Begitu kata Ibu kecamatan yang baik hati.

12784259_10205661733776797_1649998380_n.jpg
sebagai keluarga pelajar, kami bebas ga bayar pensiun. Alhamdulillah:)

Gampang kan ngurus keringanan pensiun? Ga perlu diantar suami, ga perlu-perlu banget jago bahasa jepang. Gimana dengan kamu? Ada yang punya masalah yang sama dengan saya? Dikejar-kejar tagihan pensiun? Yuuk! Jangan males ke kecamatan yaah #kedipkedip

“I didn’t know that painters and writers retired. They’re like soldiers – they just fade away.”—Lawrence Ferlinghetti

12822148_10205661781577992_1400248498_n

 

Amelia Piliang, penggemar makan makanan pedas dan asam. Ga suka punya hutang dan ngutangin orang 🙂

#ODOPfor99days

#day43

Advertisements

3 thoughts on “Dikejar-kejar Tagihan Pensiun ><

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s