Nagoya Toshokan, yeeah!

Perpustakaan Pusat Kota Nagoya, letaknya sekitar 350 m dari Stasiun Tsurumai, atau bisa ditempuh dengan berjalan kaki sekitar 3 menit. Kami mendapatkan informasi ini dari seorang teman. Buat saya, daya tarik perpustakaan umum ini adalah spot khusus bacaan anak yang punya “panggung” pertunjukan juga, katanya seorang teman loh ya. hihi! Penasaran saya, penasaran bingits.

Untuk pergi ke sana, kami berangkat dari rumah sebelum jam 12. Sampai di gedung ini sekitar setengah jam, dengan kereta plus jalan kakinya. Stasiun tsurumai yang dekat dengan perpustakaan tersebut, letaknya di Tsurumai Line (warna biru). Stasiun ini diapit oleh stasiun Arahata dan Kamimaezu. Stasiun ini juga merupakan “benteng” keduanya Nagoya University, selain kampus Higashiyama. Jadi, klo UI di Jakarta punya Kampus Salemba dan Depok, Universitas Nagoya punya Kampus Higashiyama dan Tsurumai. Begitu loh penonton, oiii penonton!

Keluar Stasiun Tsurumai, kami disambut butiran salju tipis yang turun dari langit. Rasanya, indaaah sekali #lebay

perpus nagoya 1
Setelah berjalan kaki 3 menit, kami bergegas memasuki gedung kece badai ini *wuush

Kemudian, kami masuk ke dalam perpustakaan. Di pintu masuk, ada papan pengumuman yang menjelaskan jam buka perpustakaan: Senin-Jum’at jam 09.30-20.00, Sabtu jam 09.30-19.00, sedangkan hari minggu dan hari libur jam 09.30-17.00. Asiiik, minggu buka ternyataaa!

Sampai di dalam, kami belok kiri. Orang-orang berderet membaca dan meminjam buku. Eiits! Ada juga yang tidur, ternyata hihihi! Dan, inilah spot yang menarik perhatian saya. Deretan topeng dan informasinya. Topeng-topeng ini mimiknya khas cerita-cerita Jepang kuno ya… Sayang, saya ga ngerti kanji yang menceritakan makna dibalik setiap topeng ini. Kalau tahu, lebih seru kali yaa..

perpus nagoya 2

Penasaran dengan bagian khusus anak yang memang sudah menjadi tujuan awal kami, saya berputar-putar, usaha sendiri dulu sebelum bertanya. Dan, yattaaa! Ketemu deh, inilah pintu masuk perpustakaan khusus bacaan anak. Ternyata, setelah pintu masuk, kita jangan belok ke kiri, tapi ke kanan. Di tempat inilah surganya bacaan anak. #jogethawaii

Masuk ke dalamnya, tentulah kita disambut buku-buku. Anak-anak “bergelimpangan” di sana. Ada yang membaca buku dengan tertib di kursi, ada yang bermain dengan balok dan puzzle, ada yang membaca buku dengan orang tua di “lesehan setengah empuk” yang bentuknya kayak kasur, hihihi! Dan, kami memilih untuk mencari rak buku berbahasa Inggris agar mudah membaca dan mengartikannya ke bocah kuwel-kuwel kami. Letaknya di arah barat perpustakaan anak, bersebelahan dengan rak buku berbahasa portugis. Kami mengetahuinya setelah berputar-putar mencari, ga menemukan, kemudian menanyakannya ke petugas yang baik hati dan tidak sombong.

perpus nagoya 3
Rak buku berbahasa Inggris dan Portugis

Di rak buku ini, kami menemukan dua buku favorit kami. Buku pertama adalah sebuah buku besar berukuran setengah meter berjudul “Brown Bear, Brown Bear, What Do You See?” karya Bill Martin, Jr., sedangkan buku kedua adalah sebuah buku interaktif yang berjudul “Chungging All The Way” karya Naokata Mase.

Buku “Brown Bear, Brown Bear, What Do You See?” karya Bill Martin, Jr. sangat seru karena berukuran besar. Ada sensasi tersendiri saat kami membaca buku ini. Setiap halamannya hanya terdiri atas satu gambar dengan satu warna objek yang dominan. Misalnya beruang berwarna cokelat, burung berwarna merah, kuda berwarna biru, dan sebagainya, dan sebagainya. Karena untuk balita, kalimat di buku ini sangat sederhana, misalnya,

“Brown Bear, Brown Bear, What Do You See?”

“I see a red bird looking at me,”

Itu saja kalimat dalam dua buah halaman besar yang bersebelahan. Halaman-halaman selanjutnya berpola sama, intinya mengajak anak belajar berbagai warna di alam. Saya, memiliki ide cara membaca buku ini agar tidak monoton untuk Bayan yang sudah berusia 5 tahun. Setiap akhir kalimat, “… I see a green frog…” atau  “… I see a purple cat…” saya meminta Bayan menebak arti kalimat tersebut, baik dalam bahasa jepang maupun bahasa Indonesia. Dari kegiatan bermain sambil membaca buku ini, saya belajar beberapa kata dalam bahasa Jepang. Misalnya, “murasaki” atau 紫色 yang berarti ungu, dan sebagainya. Di akhir buku, ada gambar anak-anak dan sebuah kalimat pertanyaan bertuliskan,

“Children, Children, what di you see?”

Sebuah kalimat penutup yang menarik, menurut saya. Pasti ada alasan psikologis di balik kalimat ini, bukan?

Buku kedua berjudul “Chungging All The Way” karya Naokata Mase. Membaca buku ini, kami seakan berpetualang melewati berbagai objek di alam. Kami dibawa keluar masuk terowongan, juga diminta “merasakan” bagaimana berada di dalam terowongan. Gelapnya, serunya, dan harap-harap cemas menunggu keliar terowongan. Hihihi! Berasa ada di dalam terowongan Cawang #tsaaah

Khasnya, setiap cerita dalam buku ini disajikan dalam dua halaman yang bersebelahan. Ada dua buah lubang yang menandakan keberadaan pintu terowongan. Ya, lubang. Benar-benar lubang yang bolong yaah. Pada setiap “halaman terowongan” ada tulisan,
“Roaaarr!”

“We’re going trough a tunnel!”

Hanya itu. Hanya kalimat itu dan sebuah gambar kereta dalam gelap. Gambar jenis ini selalu ada setelah gambar berbagai “situasi” di alam, berselang seling. Misalnya, kereta melewati lapangan salju, terowongan, jembatan gantung, terowongan, tepi laut, terowongan, ladang bunga kuning. Perjalanan berakhir pada sebuah stasiun berlatar belakang mercusuar. Seruuu!

Setelah membaca dua buku, tetiba Bunda teringat limit waktu. Sayang, kami ga bisa terlalu lama di perpustakaan karena Bunda ada pengajian di mesjid. Trus gimana atuh ya, banyak buku seru belum dibaca? Ciaaat! Dengan bahasa Jepang dan Inggris yang parah banget, saya nanya aja ke petugas perpustakaan. Daan, diajaklah saya mengisi nama dan alamat, kemudian mendaftarkannya ke bagian administrasi. Ribeeet? Enggak lah yaoo! Mereka membantu saya membuat kartu, plus password untuk bisa log ini di situs perpustakaan, plus dikasih tau juga dimana perpustakaan terdekat dari rumah kami. Alhamdulillah! Ternyata kota seluas 326,5 km2 ini punya banyak perpustakaan. Artinya, saya bisa ngebolang tiap minggu ke perpustakaan di kawasan Nagoya. Haratis haratis tis tis!

perpus nagoya 6
Tau ga sih, Penonton? Nagoya yang luasnya hampir sama dengan Kota Surabaya dan sedikit lebih kecil dari Kota Semarang ini punya 21 perpustakaan daerah lho! #matamelotot

Selesai membuat kartu perpustakaan, mari kita pinjam bukunyaa! Ada waktu 2 minggu untuk membaca. Jatahnya 6 buah buku, 3 buah CD, dan 3 buah kamesibai. Apaan tuh? Hehe! Klo nanya ke Mbah Google, kamesibai berarti penyu bermain. Tapi, sebenernya kasat mata kamesibai adalah deretan kertas tebal yang terdiri atas belasan halaman boardpaper yang digunakan untuk mendongeng. Yup! Karena mendongeng ritual harian kami, pastinya kamesibai harus kami pinjam #azeeek

perpus nagoya 7.jpg
Karena ini adalah perpustakaan anak, jadi spot untuk bermain anak ga boleh terlupa. Di sinilah di bayi Radium sibuk bermain dan Si Kakak yang udah mulai bosan membaca buku main pura-pura jadi bayi.

Bersiap pulang, eh ternyata ada hal menarik di ruang pertunjukan, salah satu spot kece berwarna dominan pink yang ada di perpustakaan anak. Waaah! Ternyata dari tadi ada pertunjukan kamesibai. Seorang perempuan membacakan kamesibai di depan panggung dengan sebuah alat bantu dari kayu yang digunakan agar kertas kamesibai dapat berdiri. Dalam pertunjukan ini, anak-anak dilibatkan, diajak ke depan panggung untuk berinteraksi, diajak bergerak seperti senam membuat moci, dan sebagainya. Ya ampuun, seru banget! Anak-anak berpipi merah ini mau banget diajak bergerak ala ala senam kue membuat kue moci. Begitu juga Bayan, yang pipinya ga merah hahaha!

pertunjukan kamesibai
Pertunjukan kamesibai di Perpustakaan anak Nagoya

Kamu, yang tinggal di Nagoya, udah ke perpustakaan ini belum? *kedip-kedip

Tanoshikatta!

IMG_2935

 

Amelia Piliang, emak penyuka gratisan yang punya hobi baru: ke perpustakaan. Dulu tinggal di Bandung, sekarang dan 3 tahun ke depan tinggal di Nagoya.

#ODOPfor99days #day17

Another blog kangen nusantara dan mamatachi

Advertisements

2 thoughts on “Nagoya Toshokan, yeeah!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s