Marah Historis

Marahnya ibu-ibu zaman sekarang itu historis, bukan lagi marah yang histeris. Teriakan histeris khas ibu-ibu konon kabarnya kini hanya bisa dinikmati di sinetron. Kalau kamu ga nonton sinetron, kuping kamu aman deh dari teriakan histeris ibu-ibu. Karena ibu-ibu sekarang doyan bergaul di media sosial, jadinya lebih sering curhat status daripada ngomelin anak dengan histeris. Karena ibu-ibu sekarang demennya baca teori parenting sana sini jadinya teriakan histeris di rumah agak berkurang. Sebagian ibu-ibu sekarang malah lebih suka ikutan mom war, ikutan nge-geng sana atau sini untuk mendukung jagoannya memperjuangkan nilai-nilai yang sepaham. Itulah ibu-ibu zaman sekarang. Ibu-ibu kekinian.

Hal yang ga berubah dari dulu sampai sekarang adalah marah yang historis.

“Pa, handuknya jangan digantung di kursi. Gitu deh, Papa. Tiap hari aku kerjanya cuma rapiin handuk Papa aja. Ditaro di kursi lagi, di kursi lagi.”

Begitu suaminya jawab, “Iya, Ma. Aku biasanya taro di jemuran kok,”, istrinya langsung merepet, “APAAA? Ga inget apa kemaren Papa begitu, lusa begitu, seminggu lalu, setahun lalu, bahkan delapan tahun lalu pas kita baru nikah apa yang aku kerjain di pagi hari sehari setelah resepsi? Ya, rapiin handuk Papa, mindahin ke jemuran, blablabla…”

Gyaaa! Bener apa beneeer?

Misalnya lagi, dii suatu Senin pagi.

“Mi, liat kunci motor ga?”

“Di atas kulkas kali Bi,”

“Ga ada, kamu mindahin kemana, Mi?”

“APAAA? Yang bener aja, kok aku? Kan biasanya Abi yang suka taro kunci motor sembarangan. Ga inget apa, kemarin lusa Abi sembarangan aja gantungin kunci di motor, lupa ambilnya. Dua belas hari lalu, pas Ceu Kokom yang jualan lotek di depan rumah anaknya nikahan, Abi nyari-nyari kunci motor sampe seharian, eh ternyata ada di bawah kursi teras. Sebelas tahun lalu sehari setelah kita nikah, terus lagi jalan-jalan pagi ke monas, kunci motor Abi ilangin. Habis itu ditemuin sama kakek-kakek yang rambutnya putih semua, jalannya pincang-pincang, katanya dia begitu karena kakinya luka kena diabetes. INGET GAAA?”

Hahahaha! Nah, lho! Long term memory (never) loss itu kamu bukan, Mak?

Ada lagi percakapan di hari minggu,

“Bun, lihat i-phone Kakak ga?” –> (Eciyeee, i-phone, bo!)

“Biasanya Kakak taro di deket tivi kan, cari aja di sana,”

“Udah dicari ga ada, Bun! Aku biasanya kan taro di kasur, tadi Bunda rapiin ga, Bun?”

“APAAA? Enak aja, itu kan i-phone Kakak, Bunda beliin mahal (catet ya, MAHAL! Hahaha), ya Kakak jaga dong barang Kakak. Kakak kalau naro suka sembarangan sih! Kemarin Bunda nemuin dompet Kakak di keranjang sampah kamar. Hari selasa lalu tas Kakak ditaro aja di kursi teras. Dua tahun lalu Kakak hilangin hape juga kan? Inget ga? INGET GAAA?” –> marah sambil buka mulut kayak kuda nil mau makan orang hahaha!

Yup! Itulah ibu-ibu dari zaman dulu sampe sekarang, SAMA aja. Marahnya historis bo, HISTORIS! (di-bold, underline, italic, capslock). Kok gitu ya?

IMG_3451
Kadang, anak lagi anteng main aja kita sempet nyerocos, “Akcaa! itu kocokan telur Bunda udah 3x beli lho! Masak Bunda harus beli lagi karena pengok digigitin Akca!” :-p

Ketika seorang perempuan sudah berkeluarga, ia akan mengingat untuk membeli susu anaknya usai bekerja, tiap tanggal  berapa aja ada diskon susu dan popok di Giant atau Carrefour, juga merk susu “tetangga” yang “perlu” dikalahkan gengsinya (hahaha!). Emak-emak juga bisa mengingat, siapa aja temannya yang belum bayar hutang, plus udah berapa lama mereka terus menunda janji dengan ribuan alasan. Itulah mengapa, perempuan lebih ingat janji-janji suami, daripada laki-laki mengingat janji-janji istri mereka. Iya apa iyaa?

Bahkan tajamnya daya ingat ini sebenarnya sudah terlatih dari kecil lho, Mak! Seorang anak perempuan bisa mengingat kapan harus mengembalikan buku ke teman, kapan jadwal persami (perkemahan sabtu-minggu, red.), jadwal ulangan berikut remedialnya, juga baju apa yang dipake temennya saat perpisahan SD dua tahun lalu. Hihihi! Hebat kan, perempuan. Historis bingits! #kedipkedip

anak-sd.jpg
Masih ingat ga waktu SD siapa yang suka nyontek LKS dan belum balikin pensil yang dia pinjam ke kamu, Mak? hihihi! credit

Penasaran ga sih, kenapa perempuan begitu historis di setiap saat, terutama saat ia marah? Dari rupa-rupa yang eike baca, ada yang bilang bahwa otak perempuan diasah untuk mampu menyeimbangkan antara rumah tangga, mengasuh anak, dan bekerja. Deretan tugas karena konsekuensi peran-peran sosial ini mampu meningkatkan memori mereka. Ehm. Bisa karena biasa ya, Mak!

Ada juga yang mengatakan bahwa penyebab hebatnya skill perempuan dalam mengingat kronologi adalah hormon estrogen. Estrogen sebenarnya ada di tubuh laki-laki dan perempuan. Namun, jumlahnya lebih banyak dalam tubuh makhluk feminim, a.k.a perempuan. Hormon ini mempengaruhi kinerja berbagai organ tubuh, mulai dari otak hingga ke kulit. Kabar gembiranya, hormon estrogen bisa meningkatkan jumlah koneksi antara sel-sel otak sehingga terapi hormon ini bisa meningkatkan daya ingat seseorang #azeeek

Mungkin karena jumlah estrogen di tubuh wanita lebih banyak dibanding pria, memori wanita pun berkembang jauh lebih baik daripada pria, terutama saat mengingat sebuah kronologi. Jadi, jangan keburu merepet kalau suami kita lupa sama janji ya, Mak. Ya body-nya kekurangan estrogen, jd gampang lupa. Hihihi! Hidup bapak-bapak!

ngambek.jpg
Sering lihat wajah bingung begini dari wajah suamimu, Mak? hihihi! Credit

Trus, kalau kita marahnya historis begitu, gimana dong, Mak? Ya ga gimana-gimana, Mak. Cuma kalau dibiarkan begitu aja, kita permisif begitu aja sama diri sendiri, kita kapan majunya, Mak. Rumah tangga yang adem, teduh, dan samara, cuma impian aja. Kita cuma bisa menonton di tipi atau baca di buku-buku parenting.

Setahu aye, marah itu manusiawi bingits, Mak. Semua bisa marah. Tapi kita bisa belajar mengendalikan dan menahan marah, bukan memperturutkan apalagi mengumbarnya. Mengingat begitu banyak peristiwa buruk yang dilakukan anak dan suami kita dari tujuh tahun lalu apa gunanya ya, Mak? Menuh-menuhin otak aja. Otak jadi penuh, hati jadi bengkak.

Nah, buat bapak-bapake. Kalaupun kemarahan historis istri ini udah kagak susah banget dikontrol karena doski lg stress bin kecapean tingkat dewa, bapak-bapak bisa membantunya dengan bersikap DIAM. Inget ya, Pak. DIAM, bukan mendiamkan. Diam bukan berarti ga bertindak. Minta maaf saja, walaupun ga sepenuhnya salah. Elus kepala dan punggung istrinya. Kalau perlu, bantu istrinya. Menyogok istri dengan hadiah atau makan di luar sah-sah aja, tapi ga mendidik. Karena ada aksi, ada reaksi, jadi berhati-hatilah dengan aksi yang Bapake dan Mamake bikin yaah. Salah-salah bubar! Tar pengacara perceraian makin laku lagi. Hadeeh! #tepokjidat

Eike kasih kabar gembira deh, buat para Emak yang mampu menahan marah karena Allah SWT memuji orang yang sanggup menahan marah,

“Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan (QS Ali ‘Imraan [3]: 134).

Juga ini ada ayat hiburan buat para Emak yang marahnya historis,

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang (QS Ar-Ruum [30]: 21).

Inget ga ayat itu, Mak, ayat yang suka ada di undangan nikahan? Ada jangan-jangan ada ya, ayat itu di undangan nikahan Emak dulu. Inget ga, Mak? #nutupmukapakesarung

Yaaah, mari kita mengatur kerja hormon estrogen kita, Mak. Kita perintahkan ke otak supaya hormon itu bekerja untuk menghaluskan kulit kita, menunda masa menopause kita (hihi!), menajamkan daya ingat kita dalam menghapal Al-qur’an, juga mengingat hal-hal baik yang dilakukan anak, suami, Ibu, Ayah, Adik, dan Kakak kita. Cukuplah kemarahan tehadap masa lalu hanya ada di The Angry History Show yang kerjaaannya mengoreksi kesalahan dalam pelaporan sejarah populer, membongkar kutipan palsu di internet, dan sebagainya, dan sebagainya. Kita? Jadi belajar jadi prbadi adem aja nyook!

“The strong person is not the good wrestler. Rather,the strong person is the one who controls himself when he is angry” ~Sahih Bukhari

 

IMG_2935

 

Amelia Piliang, Ibu yang semakin sering marah kepada suami dan anak pertamanya sejak anak keduanya lahir. Ibu yang sedang belajar menahan emosi, juga berniat membuang sejarah yang buruk dalam hidupnya, dan memaafkan.

#ganbarimasu

#ODOPfor99days #day15

Another blog kangen nusantara dan mamatachi

Sumber gambar feature dari sini

Advertisements

6 thoughts on “Marah Historis

  1. Hahaha kak Amel emang paling bisa deh *dua jempol tanga nbuat kak Amel.
    Btw, kalo di bahasan kak Amel ini lebih ke perempuan yang mampu mengingat hal-hal macam: kesalahan papa dan anak dkk begitu ya? Kalau mengingat pelajaran berhubungan nggak sih kak? Makin ke bangku kuliah makin nyadar kalau cowok-cowok tuh rasanya lebiiiih kuat ingatannya soal pelajaran daripada ciwi-ciwi .-. *jadi curhat kan*

    Like

    1. untuk jempol tangan, bukan kaki, nis :-p

      iyaa, nis.. tulisan ini topiknya rumah tangga..

      ttg ingatan soal pelajaran bahasannya beda nis.. dr y mba amel baca, kalau masa balita sampai SD mmg otak kiri perempuan lbh berkembang dibanding anak laki-laki, jdnya anak SD perempuan lbh byk juara dibanding cowok. anak laki-laki lbh banyak berkembang otak kanannya. Tapi setelah itu, otak kiri laki-laki jauh lbh berkembang sampai usia 30 tahunan. Otak kanan yang bagus dan otak kiri yang berkembang pesat perpaduan y bagus bingits kan? makanya soal pelajaran daya ingat mrk jg bagus. Oya, faktor pendukung lainnya adalah kebiasaan unitasking laki-laki, fokus membuat mrk lbh mudah mengingat pelajaran. Berbeda dengan perempuan yang multitasking. Kemampuan ini membuat perempuan ga fokus dan mendorong mereka memakai memori otaknya untuk mengingat “yang lain” hehehe

      Liked by 1 person

  2. Hehe.. Bener mba. Kalo emak2 emang begitu. Kalo ga historis marahnya, bukan emak2 namanya.
    Kalo pas ikut kajian ust.bendri dgn tema rumah tangga surga kemarin, semua ibu2 itu ahli sejarah. Paling pinter kalo disuruh urutin segala macem kejadian. Wkwkwk

    Like

  3. Masya Allah
    Bunda yang satu ini selain cerdas, jg mampu membahasakan dg bahasa yg mudah di terima logika saya *aduh belepotan
    Iniii cerita yg iniii ttg marah yg historis inii realistis banget… Saya pun hampir tiap hari mengalami, ternyata penyebabnya itu yaa krn para lelaki di rumah saya (ada tiga org) mereka kekurangan hormon estrogen yaa… Bener banget marah itu harus disalurkan dirubah dr energi negatif menjadi energi positif, melakukan sesuatu yg bs mentransfer energi marahnya mjd hal yg berguna (misalnya ; kalo lg kesel mendingan ngepel atau nyuci piring hehe) atau bikin sambalado kan sedap tuh :p
    Yang terpenting pada saat kita marah haruuuss lansung banyak2 istighfar sambik juga mengoreksi diri sendiri (yang pastinya sulit wong lg marah kok disuruh introspeksi)…
    Dr perspektif rumah tangga marah yg berulang itu sebenernya ga sehat loh buat diri sendiri, kalo kata suami itu sama aja lagi dibisikin syetan supaya marah terus menganggap diri sendiri plg bener, sementara suami atau anak salah terus hihi walaupun cm soal handuk atau jaket yg blm digantung 🙂
    Makasi yaa mba amel, saya jg jd harus banyak belajar nih… Makasi makasi
    Jazakillahu khoiran
    Semoga Allah Sang Pembolak2 hati selalu menjaga hati kita, menolong kita menjadi ibu yang penyabar…
    Sehingga kita layak menjadi ibu yg kata pepatah ada surga di kaki nya
    Amiiin

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s