Surat Dari Bunda

Puti Renobayan Jouzu Abadi, Itulah namamu, Nak. Nama yang gagal diberikan nenek Bunda ke Bundamu, Nak. Dan dari sekian nama yang Bundamu sodorkan, tidak satupun di-acc Buyamu. Hanya nama itu yang ia inginkan, Nak. Di dalamnya, ada kata yang menjadi bagian surat Ar-rahman, surat yang Buyamu hadiahkan untuk Bunda saat menikah, Nak. Kata itu adalah “bayaan”, artinya penjelas.

Siapa sangka, Nak. Kata berbahasa Jepang yang juga ada di namamu “jouzu”, menjadi do’a kita hingga dikabulkan Allah, Nak. Dulu Bunda pikir kata itu bermakna pintar, namun setelah dijelaskan sensee-nya Buya, tenyata kami baru paham kata itu bermakna “ahli”. MasyaAllah, bagaimana beratnya do’a kami untukmu, Nak.. Tapi, Allah SWT Maha Berkehendak, Nak. Jadi, berjalanlah saja, Nak.. Tanpa beban apapun, tanpa beban do’a kami.

Nak, jika biasanya kita menutup hari dengan membaca buku dongeng, sains, atau kisah nabi, malam tadi Bunda memberikan kisah yang berbeda untukmu. Kisah untuk kita ingat, Nak. Kisah penuh makna yang diberikan seorang Bapak kepada anaknya ratusan tahun lalu. Kisah orang biasa yang namanya ada di Al-qur’an Al-kariim: kisah luqmanul hakim.

Suatu hari Luqman mengajak anaknya untuk menunggangi seekor keledai mengelilingi kota. Mereka berdua menggiring seekor keledai ikut berjalan bersamanya. Ketika Luqman dan anaknya lewat di depan seorang lelaki, lelaki itu berkata kepada keduanya,

“Aku sungguh heran kepada kalian, mengapa keledai yang kalian bawa tidak kalian tunggangi ?”

Mendengar perkataan lelaki tersebut, Luqman lantas menunggangi keledainya, sedangkan anaknya mengikutinya sambil berjalan.

Tak berselang lama, mereka melewati dua orang perempuan yang menatap heran kepada Luqman. Ia pun berkata,

“Wahai orang tua yang sombong!. Engkau seenaknya menunggangi keledai sementara engkau biarkan anakmu berlari di belakangmu bagai seorang hamba sahaya yang hina!.”

Kemudian, Luqman pun membonceng anaknya menunggangi keledai.

Perjalanan pun berlanjut. Saat melewati sekelompok orang yang sedang berkumpul di pinggir jalan, salah seorang dari mereka berkata,

“Lihatlah! Lihatlah! Dua orang yang kuat ini sungguh tega menunggangi seekor keledai yang begitu lemah, seolah keduanya menginginkan keledainya mati dengan perlahan.”

Apa yang Luqman lakukan? Mendengar ucapan itu, Luqman pun turun dari keledainya dan membiarkan anaknya tetap duduk di atas keledai.

Mereka berdua pun melanjutkan perjalanan hingga bertemu dengan seorang lelaki tua. Melihat hal tersebut, lelaki tua itu kemudian berkata kepada anaknya Luqman

“Engkau sungguh lancang! Apakah kau tidak malu menunggangi keledai itu, sementara orang tuamu engkau biarkan merangkak di belakangmu seolah ia adalah pelayanmu?”

Ucapan lelaki tua itu ternyata begitu membekas tertanam di benak anaknya Luqman, hingga ia pun bertanya pada ayahnya

“Apa yang seharusnya kita perbuat hingga semua orang dapat ridho dengan apa yang kita lakukan dan kita bisa selamat dari cacian mereka?”

Luqman menjawab, “Wahai anakku, sesungguhnya aku mengajakmu melakukan perjalanan ini dengan bermaksud untuk menasihatimu, ketahuilah bahwa kita tidak mungkin menjadikan seluruh manusia ridho kepada perbuatan kita, juga kita tidak akan sepenuhnya selamat dari cacian. Karena manusia memiliki akal yang berbeda-beda dan sudut pandang yang tidak sama. Karena itu, orang yang berakal akan terus berbuat untuk menyempurnakan kewajibannya, tanpa menghiraukan perkataan orang lain.”

Itulah kisah yang Bunda bacakan tadi malam, Nak. Kita akan mengingat kisah ini sebagai nasehat yang juga ingin Bunda sampaikan kepadamu, Nak. Bunda tidak pandai menyampaikan nasehat seperti Luqman. Itulah mengapa kisah ini Bunda pinjam untuk dihadiahkan kepadamu. Karena dalam hidup ini kita bisa mengumpukkan hikmah yang tercecer dari banyak orang, Nak. Belajar dari banyak orang untuk bekal hidup yang akan kita jalani, Nak. Kumpulkanlah kebaikan itu di dalam pikir dan hatimu, agar tubuhmu mampu berjalan tegak dengan kepala yang tidak mendongak dan hati yang tidak bengkak.

Bayan, ingatkah kau apa yang kita bicarakan berhari lalu? Kau mengatakan,

“Bunda, aku bisa punya adik bayi itu rizki dari Allah ya?”

“Bunda Alhamdulillah ya, kita bisa melihat daun warna-warni (daun momiji yang ada di musim gugur, red.) di sini,”

“Bunda, kita bisa lihat salju itu rizki dari Allah ya?”

Ya, kau benar, Nak. Rizki Allah itu sesuatu yang terjadi hanya karena izin-Nya. Maka, apakah Ia akan mengizinkan kami menemanimu hingga kau cukup kokoh berjalan?

Puti Renobayan Jouzu Abadi, saat ini usiamu 5 tahun. Saat melihat punggungmu kemarin, tahukah kau apa yang Bunda pikirkan, Nak?

“Ya Allah, pemilik jiwa. Cukupkah umur kami untuk menemaninya menemukan hikmah yang terserak di alam?

Bagaimana pun, hanya Allah yang mampu menjagamu, Nak. Dialah sejatinya tempat kau bersandar.

Sayangku, penyejuk hatiku, pengobat lukaku, kubesarkan kau dengan kesederhanaan, perjuangan, dan rasa syukur. Jika tubuh kami tak cukup baik menjadi contoh bagimu, janganlah gusar. Karena sejatinya contohmu adalah Rasulullah. Ia, seseorang yang cintanya lepadamu lebih besar dari kami. Jadi, tirulah ia dan keluarganya. Ikutlah bagaimana ia memijak Bumi dan menatap langit. Bagaimana ia memimpin dan menolong yang lemah. Bagaimana ia sederhana di antara kekayaan yang dimilikinya. Bagaimana ia sangat memuliakan orang-orang di sekitarnya. Bagaimana ia dipercaya oleh semesta. Bagaimana ia berkata benar. Dan bagaimana ia menjadi hamba yang bersyukur.

Terakhir, inilah kalimat Allah yang Bunda pinjam untuk dihadiahkan kepadamu, sebuah nasehat yang tercantum dalam surat Luqman [31]: 19 yang artinya

“Dan sederhanalah kamu dalam berjalan….”

Waqsid fii masyika, apakah artinya, Nak? Menurut Ibnu katsir, berjalan yang sederhana yakni berjalan dengan cara jalan yang pertengahan, tidak dengan langkah yang lambat dan tidak pula dengan langkah yang terlalu cepat, namun dengan langkah yang pertengahan antara lambat dan cepat.

Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam surat Al-Furqan [25] ayat 63 yang artinya

“Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.”

Buya, Bunda, dan Akca menyayangimu karena Allah, Bayan. Semoga Allah mencintai kita karenanya dan mengumpulkan kita di surga, kelak. Wallahu a’lam bisshowab.

Nagoya, 22 Desember 2016, beberapa jam setelah Bayan berusia 5 tahun.

Bundamu, Amelia Novita

bunda-bayan

 

Amelia Piliang, Bunda dua anak yang tengah belajar menjadi contoh bagi kedua anaknya dan menjadi belahan jiwa bagi suaminya.

#ODOPfor99days

#day13

Advertisements

2 thoughts on “Surat Dari Bunda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s