Pelangi Ajaiiib!

Beberapa waktu yang lalu kami piknik Ibu-ibu pengajian Masjid Honjin, Nagoya. Tempatnya di Taman Shonai Ryoukuchi. Meskipun Buya Bayan masih di Tokyo, kami tetep ikutan dong.

Saat sedang di kereta menunggu petunjuk lokasi dari seorang teman , tiba-tiba kami melihat sebuah foto yang sangat menarik. Di foto tersebut, tampak pelangi di dekat air mancur. Mengapa bisa begitu ya? Kami pun mengobrol soal foto ini.

pelangi.jpg
Bagaimana pelangi ini bisa ada ya?  Courtesy: Facebook Novita Yustinadiar

“Bayan liat deh foto ini bayan”
“waah, Azka lagi main sepeda!”
“Iya, liat deh di deketnya ada apa bayan?”
“Waah pelangiiii!”
“Iya, Bayan”
“Kok bisa, Bun?”
“Bayan lihat air mancur ini?”
“Iya”
“Air mancurnya kecil-kecil kan kayak lagi hujan? “
“Iyaaa..”
“Nah, air mancurnya kan kecil-kecil banget, kayak air hujan. Nah, sinar mataharinya lewat di antara tetes air itu”
“Haaah?”, balita ini pun berpikir.
“Iya. Saat sinarnya ngelewatin tetes air “hujan”, sinar putihnya misahmisah menjadi warna warni”

Sini deh, liat gambar ini. –> Bunda nanya ke Mbah Google tentang gambar yang menjelaskan bagaimana terbentuknya pelangi.

“Ini ada sinar matahari. Dia melewati tetes hujan. Tetes hujannya ceritanya Bunda gedein yaaah, buletannya.. Pas dia lewat, sinar itu melengkung berpisah-pisah, bayan.. Jadi keliatan berwarna warni”

“Kok bisa?”

“Iya, bisa dong. Liat gambar ini deh. Cahaya yang masuk ke dalam tetesan air hujan akan “towew-towew” (dibelokkan, red.). Nah, tiap kali dia “towew-towew”, cahaya di dalamnya akan misah-misah jadi tujuh warna.”

“haaa?” –> entah ngerti apa engga nih bocah hihihi!

“Ya itu “kekuatan” Allah bayan.. Bayan tahu kan Allah punya banyak kekuatan? Beda sama Elsa, yang cuma punya kekuatan salju”

“Iyaaah. Hebat banget Allah itu Ya, Bun?”

“Iya doong!”

“Kok kita kemarin ga liat pelangi itu?”

“Mungkin karena tempat kita berdiri bayan. Kalau sinarnya di belakang kita, tetes hujannya di depan kita. Pelanginya keliatan.”

“Lain kali kita ke sana lagi Ya sama Buya? Biar bisa meliat pelangi..”

“Iyaaa…”

“Dulu kita juga pernah liat pelangi di langit Makoto (TK-nya Bayan, red.) ya, Bun?”

“Iya yaaa”

*************
Pelangi terjadi karena pembiasan cahaya. Bahasa gaulnya: refraksi. Cahaya matahari yang melewati sebuah tetes hujan akan dibiaskan melewati tengah-tengah tetes hujan tersebut. Walaupun saat kami ke taman tidak hujan, namun ternyata ada “hujan” dalam bentuk lainnya, yaitu air mancur yang super kecil. Jadi, hampir mirip seperti hujan. Makanya, kemarin ada pelangi padahal tidak ada hujan.

Terus, apakah akibatnya jika cahaya matahari melewati titik “hujan” ini? Hmmm, akibatnya cahaya putih sinar matahari dipisah-pisahkan (dibiaskan) menjadi berbagai warna spektrum. Jadi, tiap butiran air itu bekerja seperti sebuah prisma yang memisahkan cahaya putih menjadi tujuh warna: MErah-JIngga-KUning-HIjau-BIru-NIla-Ungu alias MEJIKUHIBINIU. Warna-warna itu memantul di belakang tetes hujan, kemudian dibelokkan. Hebaaaat! Bayangkan jika ada milyaran tetes air hujan yang memisah-misahkan warna yang dipancarkan matahari. Kita akan melihatnya sebagai PELANGI AJAIIIB!

membuat pelangi 1
Sinar Matahari menembus butiran air hujan. Nah, tiap butiran itu bekerja layaknya sebuah prisma yang memisahkan cahaya putih menjadi tujuh warna. Sumber gambar ada di sini

Masih bingung? Hehehehe.. Begindang mak Emak… Cahaya matahari itu sebenarnya merupakan  campuran cahaya berbagai warna. Di dalam air, cahaya-cahaya ini menjalar dengan kecepatan yang berbeda-beda. Yup!cahaya itu menjalar kayak ular lagi menjalar di tanah yaaa… Tapi, cahaya menjalar super cepat, hingga proses menjalarnya ga terlihat oleh mata kita.

rainbow-spectrum.jpg
Beginilah mata kita melihat berbagai warna yang dipantulkan pelangi. Sumber gambar ada di sini

Nah, ternyata eh ternyata, cahaya merah menjalar lebih cepat daripada cahaya biru. Akibatnya, saat cahaya matahari melewati batas udara-air dengan posisi tidak lurus, cahaya biru dibelokkan lebih besar dari cahaya merah. Jadi, cahaya biru “lebih belok” dari cahaya merah. Begitu juga dengan cahaya-cahaya lain, seperti jingga, kuning, hijau, nila, dan ungu. Karena sudut lengkungannya beda-beda, jadi keliatannya cantik kan?

Kenapa, saat Bayan ada di taman pelanginya ga keliatan, tetapi saat teman bunda memfotonya keliatan? Cekidot yaa! Syarat munculnya pelangi ada dua. Pertama, ada matahari yang bersinar di belakang kita. Kedua, ada tetesan air hujan di depan kita. Nah, jika posisi berdiri kita ga “pas” ya pelanginya ga keliatan.

Itu cerita pelangi Emak, gimana cerita pelangi kalian?

“My teacher asked my favorite color. … I said ‘Rainbow’…. and I was punished to stand out of my class.”
Saket Assertive

IMG_3614

 

Amelia Piliang, sebelum menikah lulusan Biologi UI angkatan jebot ini pernah bekerja sebagai editor buku pelajaran di Penerbit Ganeca Exact. Saat ini ikut suaminya belajar di Jepang.

#ODOPfor99days #day9

Sumber gambar feature ada di sini

 

Advertisements

One thought on “Pelangi Ajaiiib!

  1. Pingback: Rumahnya uni

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s