Sains memasak nasi

Pekerjaan harian yang selalu dilakukan alias rutin kadang membuat kita bosan melakukannya. Contohnya, memasak nasi. Tapiii, kita orang Indonesia gitu loooh. Masak ga masak nasi karena males? Tar perut demo, pegimane? Ihihihi!

Nah, untuk mengatasi rasa bosan, mari kita minta balita bantuin masak nasi sambil ngosa: ngobrol sains. Apaaah???!

“Bayan, Bunda mau masak nasi niiih.. Siapa yang nyuci berasnya?”
“Akuuuuu!”
“Eh pegang deh, keras apa lembek?”, kata Bunda sambil mengambil butiran beras
“Keras”
“Klo yang ini?” –> ambil butiran nasi
“Lembek” –> pencet-pencet nasi

raskin-beras-miskin_20141216_030322.jpg
Inilah beras sebelum dimasak. Sumber gambar di sini

Beras dicuci daaan..

“Airnya segini yaah.. Eh liat deh, warna apa bayan?”
“Putih”
“Kok bisa Ya?”
“Kan berasnya putiiiih!” –> anak gemes sama emaknya

mencuci beras.jpg
Perhatikan bagaimana warna air cucian beras. Minta balita kita melakukannya sendiri, kemudian tanyakan apa warna air cucian beras tersebut. Sumber gambar dari sini

Nasi pun dimasak. Setelah 15 menit, kembali mengajak Si Kakak mengecek rice cooker.

“Tuh liat asapnya keluar!”
“Panas ga?”
“He Eh!” anggur-angguk
“Kenapa kok bisa panas yaa?”
“Kan ada listriknya Bun!” à beneran ngerti gitu balita, sama “listrik”?
“Iya yaaa…”

*Biiiip biip biiip biiip*, terdengar suara rice cooker berbunyi, tanda nasi sudah matang

“Nasinya mateng Bayan. Kita liat yaaah”
“Waah airnya yang tadi itu kemana Ya?”
“Ga tau, diminum nasinya kali Bun!” –> bocah sok tau
“Ternyata bener kalau panas dari listrik bs bikin nasi mateng Ya Bayan”, Bunda menegaskan.
“He eh, jd lembek ya Bun, ini nasinya tuh liat deh” –> pencet2 nasi
“Enaaaak!” –> senyum senyum, ngikik sendiri

12072546_10204954137607335_8161737719099345755_n
Membandingkan ukuran beras sebelum dimasak dan nasi setelah dimasak adalah langkah yang penting saat mengajarkan sains mencuci beras.  Ajaklah balita untuk merasakan pengalaman itu.

********************

Nasi menjadi matang karena hantaran dan aliran panas. Energi listrik yang “jalan” di logam kabel dihantarkan melalui lapisan teflon di dalam rice cooker ke air yang menyelimuti beras. Airnya menjadi panas. Air yang duluan panas berada di dekat teflon. Kemudian panas itu mengalir ke air yang lbh dingin di atasnya, bergantian terus menerus hingga mendidih. Selama proses itu, air “disedot” atau diisap oleh Nyonya Beras. Lama2 itu beras matang deh jadi nasi.. Jadi airnya ga ilaaaang yaah, tapi nyelusup ke dalam nasi. Ngumpeet gituuuh, ihihi!

Ini adalah peristiwa konduksi (hantaran panas), konveksi (aliran panas), dan imbibisi (masuknya air ke sela-sela sel penyusun beras).

********************

Buat kami, memasak adalah bagian dari pendidikan dan ketrampilan hidup untuk melatih anak-anak bekerja dan mandiri. Memasak juga mengajarkan “sikap bekerja yang baik”, yang tak bisa diajarkan secara teori, seperti urutan bekerja, bekerja dengan rapi, ketrampilan, dan merapikan segala sesuai usai bekerja.

Ganbatte kudasai, anak balita!

amel

 

Amelia Piliang, Ibu dua anak yang senang ngobrol sains dengan anak pertamanya, Renobayan. Berharap obrolan mereka bisa dibukukan sehingga ibu-ibu lainnya di dunia bisa melakukan hal yang sama dan mengubah persepsi dunia bahwa sains itu menakutkan dan hanya bisa dipelajari di sekolah.

 

#wecantry
#otsukaresamadeshita
#ODOPfor99days #day7

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s