Suami Kurang Romantis?

*eeeaaaaaa

Nabi saw bersabda, “Yang terbaik di antara kalian adalah yang terbaik terhadap keluarga/istrinya. Dan Aku adalah orang yang paling baik terhadap istri/keluargaku” (HR Tirmidzi).

Siapa yang menyanggah jika Rasulullah SAW adalah suami terbaik sepanjang zaman? Tidak seorang pun meragukannya. Sosoknya sempurna melekat diingatan saya, terutama sosok romantisnya itu loh, yang secara sempurna pula tidak keliatan pada suami saya #ehm

Saya termasuk istri yang sering mengeluh. Mengeluh pada keadaan, mengeluh pada kondisi, mengeluh pada ketidakberuntungan, juga mengeluh pada ketidakromatisan suami. Terutama karena prinsipnya yang tidak mau mengucapkan selamat ulang tahun, met milad, barokallah fii umrik, dsb. Suami saya kokoh berkata jika itu bukan ajaran Islam katanya. Dan meskipun sudah hampir 7 tahun beliau berusaha mendidik saya ttg pemahamannya tersebut, dan ia masih belum “berhasil”, ia cool saja. Yah, meskipun kita satu atap tidak selalu harus sama kan?

“Semuanya proses sinkronisasi,” kata suami saya.

Hal sekecil itu kadang membuat saya menangis semalaman karena mellow loh! Ga bingits kan? Dan, sikap suami saya tidak berubah hingga kini. Ia hanya mengelus punggung atau kepala saya, dan tersenyum. That’s it! Garing ga sih gw?!?

Hingga saya pun mulai berpikir tentang keluhan saya yang menahun dan kronis tersebut –> kayak diabetes aje nih ><
Apakah benar saya melakukan itu? Sebenarnya suami saya romantis ga sih? Dia sayang sama saya ga sih? Dan pertanyaan-pertanyaan bodoh lainnya #ehm lagi

Hingga saya menemui dua hadits ini.

Aisyah pernah ditanya: “Apa yang dilakukan Nabi saw. di rumahnya?” Aisyah menjawab: “Beliau ikut membantu melaksanakan pekerjaan keluarganya.” (HR Bukhari)

Dari Anas, dia berkata: “Kemudian kami pergi menuju Madinah (dari Khaibar). Aku lihat Nabi SAW menyediakan tempat duduk yang empuk dari kain di belakang beliau untuk Shafiyyah.” (HR Bukhari)

Yap! Suami saya bukanlah orang yang akan mengambilkan bunga di tepi jurang yang di bawahnya ada banyak buaya pada nganga. Karena hidup suami saya untuk ibadah kepada Allah SWT dan untuk berjuang menafkahi kami lahir batin. Kenapa dia harus ambilkan bunga di tepi jurang buat saya, habis itu tergeret-geret trus mati?#ngenes dong yaah?

Yap! Suami saya bukanlah orang yang memakai kostum badut sambil membawa bunga. Karena suami saya sudah setiap hari memunculkan galak tawa renyah di antara dua buah kami, Renobayan dan Radium. Ia yang dikenal suka diam alias jaim di tengah banyak orang adalah favorit anak-anak saya dalam becanda. Sule aja mah lewaaat! Tanyakan pada anak-anak tetangga saya dulu, Bapaknya siapa yang mereka senang ajak main? Ya, suami saya itu loh yang bisa bikin anak2 ketawa ketiwi kegelian ngeliat tingkahnya. Bukankah ini skill langka di kalangan bapak-bapak Ya? Ini terlewat oleh saya#hadeeeh -____-

Yap! Suami saya bukanlah seorang pujangga yang menulis puisi. Pernah saya nangis minta dibuatin puisi, hampir 2 minggu dia sakit kepala untuk menuliskan puisi itu. Dan hasilnya, alamakchoooy! Ga banget deeeh. Boro-boro romantis hahaha! Yah, itu karena puisinya sudah ia tuliskan dalam sikapnya. Bagaimana ia membantu saya menghandle pekerjaan rumah atau menjaga anak saat saya memasak untuk berjualan, mengejar dedline menulis buku, sakit, atau saat saya protes butuh me time. Ia hanya melakukannya saja, tanpa mengeluh. Nikmat Allah yang mana lagi yang kamu dustakan? #ehm banget

Yap! Suami saya bukan laki-laki romantis yang membawa bunga bank. Karena selain doski ga suka riba, juga tak ternilailah sayang dan kasihnya untuk semua adik kami. Ia tahu bagaimana keluarga kami saling bantu untuk membuat kaki kami tegak dengan pendidikan. Dan, dengan mengganggap adik saya seperti adiknya, ibu saya seperti ibunya, bukankah itu lebih berharga dari apapun?

Yap! Suami saya bukanlah pengeran berkuda putih yang memasangkan sepatu kaca. Tapi anehnya, kenapa hanya dia yang saya pikirkan sekarang ya? Melihat matanya berbinar saat lama tidak bertemu, atau bercerita tentang mimpinya, membuat adegan sepatu kaca jadi ga penting. Kalah silau dari pancaran matanya! #eeaaaaa

—————————————–

Wahai Emak-emak rempong yang suka mengeluh seperti saya….

Beberapa suami mungkin mempercayakan uang atau ATMnya untuk dikelola sang istri, sekalipun sang istri seringkali menghabiskan dana di dalamnya dan mengeluh, “masih blm cukup Pak” atau “harga-harga kan naik terus, Pak” atau “anak-anak kan butuh ini itu, Pak”.

Beberapa suami mungkin mendidik istrinya dengan menarik HP yang terlalu asyik masyuk dimainkan istrinya, membuat istrinya malas mencari ridho suami dengan memasak, merapikan rumah, mendidik anak, dsb. Atau karena istrinya lbh suka curhat dengan suami orang yang teman sekolahnya dulu, atau teman kerjanya, atau teman mainnya, dsb. Beberapa suami mungkin hanya diam saat cemburu terhadap apapun.

Beberapa suami menunjukkan romantismenya dengan menjadikan para istri sebagai partner dalam diskusinya. Sekalipun ia profesor, sedangkan istrinya S1. Ia bisa bicara dengan istrinya berjam-jam, tidak berubah jika dibandingkan dengan dulu masih pengantin baru. Bicara tentang anak, politik, ekonomi, pertemanan, keluarga, Mathlab, bahkan pekerjaannya yang istrinya lieur sama keilmuannya, tapi tetap diajak ngomong. Termasuk diskusi tentang mimpi yang ingin dibangun bersama.

Beberapa suami bersikap romantis dengan tidak mengeluarkan tanduknya saat istri pura-pura mengancam minta cerai, padahal ingin dibelai. Ia mungkin hanya terdiam dan berkata, “saya tidak pernah berpikir untuk bercerai denganmu, sejak saya menikahimu”. Pdhl saat itu istrinya mungkin ingin mendengar, “aku mencintaimu lebih dari apapun, tolong jangan ucapkan cerai” –> hayooo ngaku, ada ga yang model begini?!?

Beberapa suami bersikap romantis dengan menunjukkan kebenaran. “Kayaknya kamu udah ketuaan klo kuliah lagi dan tidak punya afiliasi. Kamu harus punya goal saat berkarya. Kamu perempuan yang keren saat mendidik anak. Kamu tetap bisa keren dan cerdas dengan kuliah di tempat lain, bukan di Universitas. Kecerdasanmu tidak harus dengan gelar. Kamu punya cara untuk menjadi hebat, tapi kamu harus punya tujuan dulu yang bisa jadi beda dengan orang lain. Kamu tetap bisa kuliah lagi, asal goalnya jelas. Jangan bermimpi menjadi orang lain.” Apa pendapat ini merendahkan seorang istri? Ya, tergantung goal dalam hidupnya ya, tiap orang punya tujuan masing-masing yang tidak sepantasnya merendahkan goal orang lain.

—————————————-

Suamiku, setelah 6 tahun 8 bulan kaki ini menapak bersamamu, izinkan aku berhenti mengeluhkan hal remeh temeh ini. Aku sungguh menilaimu sebagai orang paling romantis di dunia setelah Rasulullah SAW. Terima kasih sudah sabar mendidikku.

Aku tahu kau tidak suka jika aku mencurahkan isi hatiku di Facebook, tapi izinkan aku membagi prosesku kepada mereka yang mengalami masalah serupa denganku. Karena tidak semua kopi harus bercampur dengan gula, kadang perlu ampas untuk menikmatinya. Ai lop yu pul, Ubi!

Dan saya akan menutup curhatan penting banget ini dengan sebuah hadits yang bisa jadi menggambarkan sikap romantis suami untuk kita:

“Sesungguhnya ketika seorang suami memperhatikan istrinya dan begitu pula dengan istrinya, maka Allah memperhatikan mereka dengan penuh rahmat, manakala suaminya merengkuh telapak tangan istrinya dengan mesra, berguguranlah dosa-dosa suami istri itu dari sela jemarinya” (Diriwayatkan Maisarah bin Ali dari Ar- Rafi’ dari Abu Sa’id Alkhudzri r.a)

Juga sebuah do’a untuk suami saya yang hanya Allah SWT dan saya saja yang tahu ^.^

“Love is a two-way street constantly under construction.”
― Carroll Bryant

Malam Arafah, Nagoya, Japan, 9 Dzulhijjah 1436 Hijriah/23 September 2015
Dari seorang Istri yang berhenti mengeluhkan romantisme suami

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s