Mengayam Persaudaraan

Membaca tulisan Salim A. Fillah dalam bukunya “Dalam Dekapan ukhuwah membuat saya tertegun. Kenapa? Karena ada beberapa hal mengenai ukhuwah islamiyah yang mungkin sebelumnya saya‪#‎gagalpaham‬, ternyata…

Seperti yang saya pahami sebelumnya, ukhuwah adalah keterikatan hati dan jiwa satu sama lain dengan aqidah. Nah, bagaimana bisa sampai ke perasaan setinggi itu? Bagaimana jiwa-jiwa berbeda jarak dan waktu bisa berkumpul satu sama lain hanya dengan satu alasan, yakni persamaan keyakinan?

rsz_friends
Saya sesungguhnya bertanya pada diri sendiri, apakah jiwa dan hati saya benar sudah berkait dengan saudara seiman? sumber gambar: ada di link ini

Saat mengawalinya, beliau membahas tiga tangga yang perlu ditapaki untuk menggapai persaudaraan Islam, yakni:
1. Iman itu adalah hubungan
2. Hubungan harus bersama iman
3. Iman dan hubungan, perlu ikhtiar untuk menumbuhsuburkannya
Tulisan pertama ini, saya hanya akan membahas pokok pikiran pertama “Iman adalah hubungan”

Allah dan Rasul-Nya meletakkan ukuran-ukuran keimanan seringnya dalam kualitas hubungan yang kita jalin dengan sesama. Bagaimana saya berhubungan dengan tetangga saya, bagaimana saya berhubungan dengan teman-teman Indonesia di Nagoya ini, bagaimana saya bercakap-cakap lewat dunia maya dengan teman-teman sekolah dulu, bagaimana saya menyapa para tetangga saya di Bandung dulu, dan seterusnya, dan seterusnya. Ternyata, semua hal itu diukur Allah SWT sebagai salah satu parameter keimanan saya. Termasuk bagaimana saya curhat di Facebook, dikomentari teman, atau bahkan dishare oleh mereka, itu juga Allah SWT ukur. MasyaAllah.

Nah, bicara tentang iman, tentu kita perlu mengingat apa itu iman. Iman yang sempurna dibenarkan dalam hati, diikrarkan oleh lisan, dan diamalkan oleh anggota badan. Jika kurang, maka iman itu “cacat”. Jika kita masih menyembunyikan kebenaran itu, atau berbohong saat mengatakan beriman, atau berpura-pura saat beramal, maka iman kita “cacat”. Sedih ya? Iyalah, karena saya menemukan betapa banyaknya tambalan pada keimanan saya. Karena saya menemukan bahwa kadang saya menyembunyikan kebenaran untuk membuat hati teman yang berbeda dengan saya senang. Karena kadang (baik sadar, maupun tidak), saya riya dalam beramal. Sedih banget saya, saat mengingat ini.‪#‎dudukdipojokan‬ 😓

Balik lagi ke soal Iman adalah hubungan. Gimana caranya menggapai ini? Ternyata, konsepnya ANYAM (Aman, Nyaman, dan Manfaat).

Mukmin, orang yang sesamanya merasa AMAN darinya, itulah keimanan. Seorang mukmin tidak membawa rasa takut, tidak membuat kerusakan (mafsadat). Doeeeeeng! Sudahkan saya menimbulkan rasa aman bagi saudara saya seiman?

IMG_0758.JPG
Jika perosotan ini saja diatur agar aman didaki, bagaimana dengan kita? Apakah sudah “aman” bagi saudara kita? ataukah kita menjadi teror baginya?

Pernah seorang kenalan saya bercerita, “Saya hapus semua status teman Facebook yang antitoleransi yang muncul di wall saya, mba”, katanya ke saya.

Ada juga yang cerita,”Saya ga mau temenan lagi sama dia karena suka posting gambar porno, Mba”

Ada lagi teman yang pernah menanyakan ke temannya yang sedang hamil saat temannya yang berjualan baju muslim itu memposting foto kartunnya dengan belahan dada (bergambar komik). Padahal saat itu dia lagi hamil lho Mak, which is hormonnya lagi naik turun, gampang bête, gampang marah. Alhasil, temannya itu marah-marah sampai mengutuk ini itu via inbox.

Jadi begitulah, saat kebenaran disampaikan dengan tidak apik, yang dipanen justru kemarahan. Orang-orang yang dinasehati tersebut merasa tidak aman, merasa diserang, merasa di bom atom otoritasnya. Akibatnya, bak kura-kura, masuklah mereka ke dalam tempurung, dibuatlah benteng-benteng tinggi agar mereka tidak lagi mendengar atau membaca hikmah yang kita bagikan. Astaghfirullah!

NYAMAN, kita tidak membuat seseorang canggung, kikuk, salah tingkah saat kita hadir di dekatnya. Pernahkah di antara kita dulunya memakai baju tengtop plus rok mini cihuy duduk di kursi, tiba-tiba ada lelaki datang duduk di sebelah kita, melihat kita dari atas sampai bawah dengan ujung matanya. Dan mengulang-ulang lagi pandangan itu sampai matanya puas, tapi ternyata ga puas-puas? Atau pernahkah kita yang memakai gamis dan jilbab panjang berdiri di sebelah seseorang, kemudian seseorang itu melihat kita tanpa putus seakan berpikir “ini teroris yang di tivi itu bukan, ya?”

Apakah perasaan teman saat bersama kita? Apakah nyaman, atau justru kikuk atau canggung?

Enak ga sih digituin? Kikuk ga sih digituin? Canggung ga sih, bête ga siiiiiiiih? ‪#‎gggrrrrhhh‬

Ga ada yang nyaman kan ketika pilihan hidupnya dipertanyakan orang lain melalui pandangan sinis? Nah, melalui buku ini saya diingatkan kembali bahwa saat mengingatkan saudara seiman saya perlu memikirkan kenyamanan mereka. Agar kebaikan itu sampai ke hati, dengan pilihan mereka sendiri.

Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada kebaikan pada orang yang tidak mudah akrab dan tidak mudah diakrabi”

Hadeeeh, sedih banget kan baca hadits ini? Saya, gimana ya, apakah termasuk orang-orang ini? ‪#‎mikir‬

Kabar baiknya, ternyata ga cuma kita lho orang yang kesulitan untuk mudah akrab atau sulit menyampaikan kebaikan dengan “pas”. Sahabat nabi aja, ada lho yang kayak gitu. Misalnya, salah satu sahabat nabi yang pertama kali masuk islam, kenalan dulu yaa… Namanya, Abu Dzar Al-ghifari. Doski terkenal sebagal sahabat yang kepribadiannya “bermulut lurus” alias klo ngomong straight to the point, ga belok-belok dulu. Contohnya, saat beliau pernah menyebut Bilal “Hai anak budak hitam!”. Padahal, bener kan klo Bilal itu anak budak hitam? Tapi apakah perkataan itu baik?

Mendengar sebutan itu keluar dari mulut Abu Dzar, Rasullullah menunjuk satu telunjuk jari kepada abu dzar dengan mengatakan “Di dalam dirimu masih terdapat jahiliyyah”. Sedih ga sih?
Kemudian, apa yang dilakukan Abu Dzar? Beliau menundukkan kepalanya ke bawah, meletakkan kepalanya ke atas pasir dan menaburkan debu ke wajahnya dan mengatakan kepada Bilal “Ya Bilal, injaklah kepala dan wajahku, agar tertebus dosaku, agar luntur kalimat yang tadi kuucapkan. Ya Allah, aku sangat menyesal”

Peristiwa itu menyiratkan perlunya kita, saat mengetahui suatu kebenaran, melakukan “fal yakul khairah” (berkata baik). Apa artinya? Baik itu… Benar isinya, indah caranya, tepat waktunya, bermanfaat, dan berpahala. Jika tidak dapat melakukan itu, maka lebih baik DIAM. #‎ngemengsamadirisendiri‬

Sudah aman, sudah nyaman, sekarang kita perlu memberi MANFAAT. Nah, ini dia yang seringkali saya lupakan. Saat memberi manfaat, saya seringkali kurang memikirkan manfaat dari sudut pandang orang yang ingin saya beri tahu itu. Saya lupa, saya khilaf.

Satu lagi yang saya lupakan, yaitu manfaat yang saya berikan itu harus murni manfaat, bukan pencitraan. Bukan PENCITRAAN. Nah, klo ini memang urusannya hati ya… Yang tau itu pencitraan atau ga, ya hati kita.

Adakah di antara kita yang kenal sama Pak Al Walid Al Mughiroh? Beliau, orang “mulia”, turunan ningrat, kaya, terkenal, dan senang berbagi, sangat terobsesi menjadi penguasa Mekkah. Dia senang membuat pesta-pesta untuk menjamu para pejabat. Dia menyediakan banyak makanan bagi si miskin. Dia memperbaiki ka’bah yang rusak diterjang badai. Dan sebagainya. Dia sangat ingin menggantikan Abdul Muthalib, kakek Rasulullah, dan merasa sangat pantas menggantikannya.

Tapi, ternyata siapakah yang Allah SWT tunjuk menjadi nabi? Ternyata, ia bukanlah orang sekaya Al Walid Al Mughiroh, tapi ia sangat dermawan. Dengan keterbatasannya, ia “hobi” membebaskan budak. Ia memelihara sifat amanah (dapat dipercaya). Ia suka menolong yang lemah. Dialah, Rasulullah Muhammad SAW. Mendengar itu, Al Walid Al Mughiroh sangat marah dan berkata, “Kenapa bukan saya? Saya jauh lebih mulia daripada dia (Muhammad). Maka celakalah ia! Al-qur’an ini hanyalah sihir yang dipelajari dari orang-orang terdahulu…”

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata, “Allah menurunkan 104 ayat mengenai AI-Walid Al Mughirah.”. salah satunya adalah QS. Al-Muddatsir: 11-30. Orang yang hobi melakukan pencitraan dari balik kebaikannya ini, akan dimasukkan dalam neraka Saqar. Neraka yang menghanguskan kulit manusia, dia atasnya ada 19 malaikat penjaga. Ngeri ya? Ngeri bingits euy! Saya, dengan keterbatasan ilmu yang saya pny berharap tidak memiliki sifat AI-Walid Al Mughirah ituh ‪#‎horor‬

Nah, satu lagi yang saya baca dari buku ini, bahwa memberikan manfaat itu, saat menyampaikan perkataan baik itu, perlu memilah dan memilih cara yang baik pula.

Cekidot Qs Ibrahim (14): 24-25, yang bunyinya “Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah SWT telah membuat perumpamaan perkataan yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan menjulang ke langit. (Pohon) itu menghasilkan buahnya pada setiap waktu dengan seizin Rabb-nya…”

Nah, menurut Sayyid Kutub di ayat ke-25 tertulis “tu’ti ukulaha”, bukan “Tu’ti samarotaha”. Saya sendiri kurang paham kaedah Arabnya ya.. tapi menurut beliau, jika saya ingin mau memberikan mangga kesukaannya Mpok Winarti Halim, trus saya ngasihnya dengan melempar pake jurus kame ha me-nya Go Ku Dragon Ball, itu namanya “Tu’ti samarotaha”. Tapi, klo saya ngasih mangga itu dipilihin mangga paling manis (‪#‎glek‬) yang gede-gede, dibungkus seperti parsel, diberi tambahan lego buat anak-anaknya (hihihi!) dan diberikan dengan penuh cinta, pake puisi pula. Itu namanya “tu’ti ukulaha”. Jadi, perkataan baik itu perlu disampaikan dengan cara yang sebaik-baiknya yang kita bisa. Betewe, klo ngasih mangga ke temen aja harus begitu, apalagi ngasih shodaqoh ya? Jangan sampe nanti klo kita jadi orang kaya bangggeeet, mau ngasi shodaqoh mereka disuruh antri superpanjang, trus shodaqohnya dilemparin dari balik tembok tinggi yaaah! Ampun dah! ‪#‎tepokjidat‬

helping-people
Sudahkah saya bersungguh-sungguh memikirkan manfaat yang bisa saya berikan untuk sesama? #tariknapas, sumber gambar di link ini

Panjang ya bo, ternyata! Ilmu udah nambah dikit, tinggal action-nya nih. Semoga bisa lebih baik nantinya, gimana saya mendidik anak saya, menjaga keluarga Depok, keluarga Semrang, berhubungan dengan teman-teman, tetangga, dan lain sebagainya. Amiiin.

Btw, tulisan ini hasil retold dari ibu rumah tangga biasa yaaa.. bukan lulusan Mekkah ata Madinah, bukan lulusan pesantren, bukan pula ustadzah beken. Jadi klo banyak kurangnya, harap maklum. Karena mengomel ga membawa manfaat saya menulis. Karena menulis untuk mengingatkan diri sendiri.

Nagoya, 4 Januari 2016, sehari setelah pernikahan saya berumur 7 tahun‪#‎tears‬

Because even the smallest of words can be the ones to hurt you, or save you.”
― Natsuki Takaya

#ODOPfor99days

#day1

gambar judul dari link ini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s