Gila Buku Sejak Bayi

Menjalani profesi sebagai penulis, salah satu masalah utama saya adalah SAYA GA SUKA MEMBACA (Capslock! Capslock!) Sedih dan menyedihkan banget gueeeh T.T

Yup! Budaya membaca memang ga ada di keluarga saya. Dari kecil, saya biasa disuguhkan tivi oleh ibu, agar ga mengganggunya menjahit dan mengerjakan pekerjaan rumah lainnya. Saya dan ibu saya (dulunya) cenderung mikir ribuan kali buat beli buku, kecuali buku pelajaran dan LKS yaaaa! Cung, siapa yang kayak gue bingits?!?

Ceritanya pengen insaf, sejak hamil saya hobi membaca. Melawan rasa malas, melawan rasa bosan, dan melawan sifat pelit membeli buku. Hihihi! Dari artikel yang saya baca waktu itu, telinga janin sudah dapat berfungsi sejak usia 6 minggu dan terbentuk sempurna pada saat usia lebih kurang 18 minggu. So, sejak janin saya berusia 6 minggu, saya udah sering membacakan buku dengan suara dan intonasi seru, layaknya pendongeng profesional #ngakungaku

Saya masih ingat, buku pertama yang saya kenalkan ke janin adalah sebuah buku terjemahan yang bahasa aslinya Bahasa Korea dari penerbit BIP, berjudul “Aku suka belajar: mamalia”. Ga heran ya, klo anak saya yang pertama udah bisa ngomong klo paus dan lumba-lumba itu mamalia, bukan ikan, sejak usianya 20 bulan. Ya ini nih, karena buku ini.

buku mamalia.jpg
buku mamalia kepunyaan saya dipakai sampai robek-robek ga jelas bentuknya, itulah buku favorit kami. link gambar ada di sini

Mulai saat itu, kami belajar mencintai buku. Gampang ga sih? Ya susahlah. Apalagi udah makin berumur kayak saya, susah banget melakukan kebiasaan baru. Tapi, berhubung saya sudah terlanjur bertekad untuk mengubah keluarga kecil saya, ya jadilah kami sejak saat itu mengumpulkan satu demi satu buku, untuk dibaca bersama. Sejak saat itu, kebiasaan membeli buku mulai tumbuh. Meskipun, teteeeeep yaah! Nyari buku diskonan, buku murah, kualitas bagus. Ada gitu? Adaaa dong! Eya harus pake usaha ngubek2 di toko buku hihi!

Nah, sekarang pertanyaannya, “Dengan riwayat baca buku sejak dalam kandungan, anak lo udah pinter baca dong ya? Pasti sejak 2 tahun udah lancar baca ya?”

Ayooo! Ada ga yang masih mikir begitu? Bahwa klo kita beliin buku buat anak, anak cepet baca huruf, trus nanti juara kelas, blablabla blablabla. Eyaaampun, itu mah pemikiran jadul amat yaah..

Biar ga jadul, ayo baca buku gratisan tulisannya Anna Farida, emak pinter guru menulis saya inih (ciyeeee, ngaku-ngaku murid!)

“Anak-anak terlahir dengan rasa penasaran, dan sangat berminat mempelajari berbagai hal yang terdeteksi oleh indera mereka. Selain mengamati lingkungan sekitarnya secara langsung, cara lain bagi anak-anak untuk memperoleh pengetahuan atau menambah wawasan adalah membaca. Salah satu tugas kita sebagai orangtua adalah menemani dan memandu mereka agar rasa penasaran itu tetap terjaga.

….

Dengan memperoleh arahan yang tepat, anak yang memiliki rasa penasaran tinggi memiliki peluang untuk belajar lebih banyak. Lantas, mengapa masih ada orangtua yang cemas dan menganggap anaknya “tidak bisa membaca” karena mereka hanya mau melihat-lihat gambar saja?”

12464060_10205333702936231_1799047846_n.jpg
Radium, sekarang berusia 14 bulan. Serius banget baca buku yang bahkan emaknya aja kesulitan baca hurufnya hihi!

Nah, doweeeeeng banget kan? Berita basi ituh klo kita mikirnya anak dikenalkan buku supaya mereka bisa cepet baca deretan huruf. Beneran, itu berita basi banget. Lengket, bau lagi! :-p

Bayi, balita, dan anak, kita kenalin buku sejak kecil ga cuma sebatas untuk itu aja, Mak! Saat dia melihat gambar cover dan isi bukunya yang lucu dan menarik, dia akan punya ketertarikan terhadap buku. Saat dia melihat warna warni yang ciamik, indra penglihatannya terangsang. Saat ia melihat ekspresi dari tiap tokoh yang ada di buku, hatinya akan “terindra” sehingga belajar ekspresi wajah. Saat ia membolak balik buku, otot kecilnya akan terlatih sehingga motorik halusnya akan berkembang. Saat ia melihat gambar yang bercerita, imajinasinya akan terlatih. Saat ia belajar membaca gambar dan menceritakannya kembali, ia akan menemukan asiknya berimajinasi. Seru kaaan? Justru, saat ia belum bisa benar-benar membaca deretan huruf, ia belum terkungkung oleh satu macam cerita. Ia justru bisa membuat lebih banyak cerita, meskipun kadang “nyasar” dari cerita asli buatan penulisnya.

IMG_2645.JPG
kebiasaan kami adalah mencocokkan apa yang kami temukan di alam dengan buku. Jadi, buku terasa lebih hidup 🙂

Sebenarnya, sejak usia 3,5 tahun anak saya Bayan sudah mulai bisa membaca kosakata sederhana. Saya ajarin? Hadeeeh! Ajarin ga ya? Secara langsung seperti guru mengajar di kelas, engga. Tapi lebih ke permainan. Bayan yang sejak usia 16 bulan sudah lancar bicara, saya buatkan flash card, lalu kami bermain petak umpet dengan flash card itu. Kadang, saya juga memainkannya seperti bermain memory card. Tapi, sebenarnya bukan itu semua yang membuatnya bisa membaca. Dia pertama kali kenal huruf, ya empat huruf ini: e-l-s-a.

Lha, kok bisa? Iya. Dia yang sangat suka dengan Elsa Frozen minta diajarkan bagaimana menulis kata “elsa” di kertas, mengetiknya di laptop, juga mengetiknya di handphone. Cuma kata itu aja, awalnya. Kemudian, kami belajar, Bayan tidak suka menghapal huruf. Dia suka berlogika. Bahwa huruf “b” bila ketemu “a” menjadi “ba”, itu karena sebelumnya dia tau kalau huruf “s” kalau ketemu “a” menjadi “sa”. Begitu juga huruf “e” bila ketemu “n” menjadi “en”, itu karena sebelumnya dia tau kalau huruf “e” kalau ketemu “l” menjadi “el”. Yup! Semua karena “elsa”. Hihihi! Arigatou, Elsa!

IMG_3513
Ketertarikan anak-anak kami dengan sains berawal dari buku

Nah, balik lagi ke menumbuhkan rasa cinta pada benda segiempat bernama buku. Jika banyak orang tua membelikan bermacam mainan, saya agak pelit yaaah! Buat saya, keterbatasan membuat anak kreatif (hihi! Alasan yang ga mengada-ngada!). Kecuali buku, tidak banyak mainan yang saya belikan buat bocah-bocah. Beruntunglah! Di Jepang sini, ada toko buku bekas gedeeeee banget, namanya Book Off. Sebulan kami bisa beberapa kali membeli buku. Terkadang, buku yang kami beli hanya 2, namun terkadang bisa 15. Semua, dibatasi budget hahaha!

Emang bisa bacanya? Baca huruf? Hiragana, kanji? Ya, enggalah! Saya masih dong-dong baca kanji, tapi klo baca hiragana lumayanlaaaah! Trus, ngerti isi bukunya? Ya karena yang kami beli buku anak yang bergambar cakep-cakep, bisa-bisanya saya aja berimajinasi. Kadang, saya mencoba membaca deretan hiragana itu, dan mengartikannya. Kadang saya mengarang cerita sesuai gambar. Kadang, saya dan Bayan (hampir 5 tahun) bergantian membaca gambar. Seperti bermain saja. Saya membaca gambar 2 halaman, kemudian dua halaman berikutnya, Bayan yang membaca. Begitu seterusnya hingga halaman ceritanya habis. Sambil mengarang cerita, kami tertawa cekikan. Seruuuu!

Karena kakaknya terbiasa membaca buku, sejak bayi sang adik pun suka dengan buku. Terutama saat Radium mulai bisa merangkak menuju rak buku dan memanjatnya di usia 10 bulan, ia sangat antusias dengan buku. Apalagi merebut buku yang dipegang kakaknya, itu obsesi banget buat dia hahaha!

IMG_2500
Buku ini menjadi salah satu yang paling sering direbut Radium dari kakaknya. Membolak balik buku hasil rebutan ini menjadi suatu pengalaman seru buat si bayi

Berhubung gender kedua kakak beradik ini berbeda, saya mulai memikirkan tema yang cocok buat masing-masing anak ini. Sang kakak sudah mulai kelihatan minatnya kepada buku-buku bertema princess, Minny Mouse, selain buku-buku sains. Sedangkan sang adik, saya belikan buku bertemakan alat transportasi dan buku cerita bertemakan moral.

Kata salah satu teman saya, GA ADA ANAK YANG GA BISA SUKA BUKU. Yang ada hanyalah anak-anak yang terlambat dipertemukan dengan buku, hingga lebih dululah ia berkenalan dengan TV, dengan smartphone, dengan playstation. Hingga tayangan gambar bergerak dengan sinar-sinar tajam lebih dulu menyerang indranya.

Jadi, saat balita dan bayi Emak tertawa melihat buku, memukul-mukul buku, menurunkan buku dari raknya, bergembiralah! Apalagi saat sang buah hati meminta Emak membaca buku di malam hari sebelum tidur, lakukanlah sekalipun Emak lagi supercapek dan mengantuk. Janganlah mengeluh, “Nak, kamu kan sudah Emak belikan buku, bacalah sendiri. Si Anu udah bisa baca buku sendiri. Si Ani sudah pinter menulis,…” Ini mah namanya balik lagi ke paradigma lama: baca buku=baca deretan huruf

Mari menghadirkan buku jauh hari sebelum ia mengenal perangkat hiburan lainnya. Tanpa beban harus pinter baca huruf. Tanpa beban harus juara kelas abis dibeliin buku. #ngemengsamadirisendiri

IMG_3616.JPG
Toko buku berlambang huruf kanji “Hon”, menjadi tempat favorit kami

“People who say they don’t have time to read simply don’t want to.”
― Julie Rugg

Advertisements

6 thoughts on “Gila Buku Sejak Bayi

      1. iya mmg biasanya begitu… buat perjanjian udah bun? kapan aja bs main gadget, dsb.. daaan, ajak baca buku dengan cara cerita yang seru. Intinya, aktivitasnya pelan-pelan dialihkan dari gadget ke buku atau aktivitas gerak lainnya. Saya sering ajak anak ke taman bun, jd anaknya capek dan lupa dengan gadget. Kadang2 aja minta main. Anak pertama saya (hampir 5 tahun) dulu main gadget seminggu 2x (ga seharian), skrg sdh jarang banget. paling2 seminggu sekali dan itu cuma sebentar aja.. Tapi ga tau ya nanti kalau makin besar gimana.. Umur anak bunda berapa?

        Like

  1. Wah sama donk Mak, saya juga biasain baby dengan buku. Tapi saya juga suguhi dia video bayi, soalnya gimana ya Mak… itu membantu saya banget coz baby jadi bisa ditinggal mandi. Tapi saya batasi maks 2x yaitu pagi n sore.

    Oiya, emak tinggal di jepang kota mana? Saya pengen banget lho ke jepang (#norakdotcom)
    Ada sodara juga di sana, di Sapporo (ngaku2 sodara).

    Like

    1. Hihihi.. Gapapa mak, Semua org tua pny cara untuk mendidik anak.. Kita udah berusaha y terbaik kaaan? *kedipkedip

      Wah, Sapporo Jauh yaa.. Sy d Nagoya Mak, Jepang tengah..

      Salam kenal

      Trm ksh udah main

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s