Bongkar Celengan!

Belakangan ini si Kakak sedang senang dengan pernak pernik Hello Kitty. Salah satu benda imut favoritnya ituh adalah celengan. Kuat, kokoh (ga gampang pecah), bisa dibuka tutup, daaaan murah (CAPSLOCK! CAPSLOCK!) Hihihi. Nah, ga tau kenapa dari pagi doski sibuk banget ngitung uang celengannya yang katanya mau dibelikan sepedah.

Satu, dua, tiga, sampai dua puluh enam hitungan doski semangat banget ngitungnya. Nah, mumpung lagi doyan pake otak kiri, gimana klo sekalian aja dikenalin dengan tabel.

“Satu, dua, …, dua puluh enam”

“Oh, ngitungnya jangan sekalian begitu Bayan. Nanti bingung, itu kan uangnya beda-beda,”

“Gimana bun?

“Coba pisah-pisahin Bayan. Yang rupiah sama rupiah, yang yen sama yen. Yang 100 rupiah ngumpul sama temennya 100 rupiah juga. Nah, yang 1 yen juga ngumpul sama temennya. Kayak Bayan seneng kan kalau main sama anak Kelas Sakuranbo? Sama Yoga Kun, Abdul Kun, Chika Chan, Hinori Chan”

“He eh” –> bocahnya senyam senyum

Dan, koin-koin yang berserakan itu pun berkumpul sesamanya.

IMG_3685[1].JPG
Spidol dengan warna berbeda membantu anak memahami baris dan kolom

“Nah, sekarang dengerin Bunda diktein yaa.. Bayan tulis di kertas yaa.. Ta”

“Ta”

“Be”

“Be itu huruf B sama E ya, bun”

“Iya, bener! Nah, klo Be biar jadi Bel ditambah huruf apa?”

“l”

“Siiip! Sugoi!”

Tahap tulis menulis ini pun ke tulisan lain, seperti pada gambar. Tabel uang tabungan Bayan ini saya buat horizontal, mengingat ragam koin yang lumayan banyak, tulisan bocah yang guede-guede, juga supaya gampang dilihat dalam satu halaman.

“Nah, coba sekarang Bayan hitung berapa jumlah uang seratus rupiah”

“Ga tau yang mana” –> bocah 4,5 tahun ini emang belum ngerti sih.

“Seratus itu yang angkanya satu nol nol”

“oooh, ini! Satu, dua, tiga!”

“Ok, tulis di bawahnya ya, di sini”

“Nah, seratus kan satu nol nol, kalau lima ratus gimana Bayan”

“hehehehehe” –> doski cengengesan, belum paham.

“Seratus, satu nol nol. Lima ratus, lima nol nol”, jelas Bunda dengan ekspresi lebay pedagogis. Suaranya dibuat selucu mungkin untuk menarik perhatian anak. Kalau perlu pakai gaya-gaya. Cara ini sering saya pakai untuk menanamkan memori ke pikiran anak ya, Bun.

“Aku tau!”, bocah pun bersemangat menghitung jumlah uang lima ratus rupiahnya. Hitung menghitung ini berlanjut dengan uang satu yen, lima yen, terus hingga lima ratus yen.

“Dekita!”, teriaknya. –> Artinya, “Aku bisa!”

“Waaah! Alhamdulillah! Excellent! Nah, sekarang Bayan coba ambil uang lima ratus yen dan lima ratus rupiah ya. Samanya apa?”

IMG_3689[1].JPG
Kami membandingkan uang lima ratus yen dan rupiah agar Bayan lebih mudah membuat memori tentang koin-koin tersebut

“Ada lima nol nol”

“Kalau bedanya?”

“(Yang rupiah) Di dekat lima nol nol ada bunganya, yang ini (yen) ada rumput-rumputnya,”

“hehe, itu yang ada di uang lima ratus rupiah bunga melati Bayan, nih bentuknya kayak begini,” Bunda pun bertanya sama mbah Google, siapa tau punya koleksi bunga melati. Dan ternyata, ada!

googling melati.png

“Kalau ini (gambar di uang yen) sebenarnya daun bambu Bayan, rumput paling gede sedunia! Ini fotonya,” Bunda pun kembali googling.

Mendengar kalimat “rumput paling gede sedunia, matanya berbinar, tanda penasaran.

“Gimana belakangnya, Bayan? Sama atau beda uang lima ratus yen dan rupiah?”

“Beda, Bun! Yang ini (rupiah) ada gambar burung elangnya, yang ini (yen) gambarnya daun (berbentuk) love”

“Uwoooow! MasyaAllah! Hehe, tapi itu bukan elang Bayan. Itu temennya elang, namanya garuda. Dia sama besar dan gagah dengan elang, tapi beda nama. Garuda itu burungnya Indonesia. Kalau  yang di (uang) yen ini, gambar daun Paulownia. Bunganya ungu kayak terompet pet peret pet pet!” jelas Bunda googling sambil bikin suara lucu. Gadis bermata bulat ini pun tertawa geli.

“Gimana warnanya Bayan?  Sama atau beda, uang lima ratus yen dan rupiah?”

“Beda, Bun! (Uang lima ratus) yen warnanya apa ini yah?”

“Emas, ini warna emas,”

“Iya, emas. Nah, kalau yang (lima ratus) rupiah abu-abu (silver, red.),”

“Pinteeeer! Gimana ukurannya, gedenya sama ga?”

“Hmmmm,” sambil menunjuk-nunjuk koinnya, Bayan pun bingung karena ukuran kedua koin ini hampir sama, namun dia tidak cukup yakin.

“Lebih besar yang rupiah ya Bayan, tapi cuma beda sedikit,”

“Iyaaah, hehe”

“Nah, sekarang coba ambil yang seratus rupiah Bayan,”

“Ini ada satu nol nol”

“Di belakangnya gambar apa?”

“Garuda. Bun” –> matanya berbinar menemukan kosa kata baru. Ia sudah mulai mengerti dan ingat burung garuda.

“Waah, tadi juga ada ya, koin yang ada gambar garudanya”

“Iya, ini” sambil menunjukkan koin lima ratus rupiah.

“Ternyata, uang Indonesia ada gambar garudanya ya Bayan”

Gadis kecil pun mengangguk, tanda setuju.

Setelah membandingkan uang lima ratus yen dan rupiah, kemudian membandingkan uang lima ratus dan seratus rupiah, kami pun melanjutkan membandingkan koin seratus rupiah dan seratus yen. Benar! Caranya sama dengan membandingkan uang lima ratus rupiah dan lima ratus yen. Si gadis kecil pun tanpa sadar mengenal dan mendata uang.

*************

Emak, pernah denger ‘practice makes perfect? (ceileee, bahasa gue!). Apaan tuh? Artinya, kita mendorong anak untuk mencoba menjawab lebih banyak pertanyaan untuk mengingat sesuatu dan “menanamkannya” dalam memori jangka panjang. Ini ga mudah karena tiap anak pasti merespon berbeda. Ada yang cepat, ada yang lambat. Di usia balita hingga awal sekolah dasar, anak perempuan umumnya menjawab pertanyaan matematika lebih lama, namun seringkali benar. Berbeda dengan anak laki-laki yang seringkali merespon cepat, namun seringkali salah. Namun, makin banyak kita berlatih lama-kelamaan akurasi jawabannya akan membaik.

Itulah yang saya lakukan. Pertama, saya meminta anak membuat pengelompokan koin berdasarkan bentuk dan ukurannya. Jangan kuatir jika mereka tidak mengenal nominal, semua akan berproses.  Caranya dengan memperkenalkan ciri koin sesuai kemampuan anak. Karena Bayan sudah memahami angka satu hingga puluhan, saya mencoba mengenalkan angka seratus dengan simbol “satu nol nol”.

Kedua, sesudah mengelompokkan, kami membuat sederhana. Kami menggunakan spidol dengan warna berbeda untuk membuat anak memahami keterangan “nama koin” dan jumlahnya. Gunanya, agar ia mudah membedakan fungsi tiap kolom atau baris dalam tabel.

Ketiga, kami membandingkan uang yen dan rupiah dengan nominal yang sama. Lima ratus yen dengan lima ratus rupiah. Tanyakan kepada anak, apakah persamaan kedua koin tersebut, apa pula perbedaannya. Saya terlebih dulu menanyakan persamaan karena ingin menanamkan ke anak bahwa persamaan itu menyenangkan, sedangkan perbedaan itu berkah. Saya harap, cara pandang itu bisa ia terapkan hingga dewasa ketika melihat perbedaan yang persamaan yang ada di masyarakat. Cara yang sama kami lakukan pada koin seratus yen dan seratus rupiah.

Keempat, kami membandingkan dua koin rupiah dengan nominal yang berbeda, apa kesamaan dan perbedaannya. Dari proses ini, kami menemukan bahwa uang rupiah mempunyai gambar burung Garuda sebagai simbol negara. Ini berguna untuk mengenalkan ke anak. Jadi, nasionalisme tidak melulu bicara tentang upacara kan ya? Hehe!

Kelima, saya mendiktekan cara menulis judul dan isi kolom dan baris tabel tabungan. Saya menggunakan pendekatan kepada Bayan saat mengajarkan baca tulis. Misalnya, saya menanyakan “Kata “bel” disusun dari “be” dan huruf apa ya?”. Jangan kuatir jika anak belum bisa menjawabnya, juga jangan terburu-buru untuk memberi tahu. Coba beri contoh, seperti “Kalau “be” ketemu “r” jadi “ber” (sebutkan dengan nada lebay dan lucu). Nah, klo “be” supaya jadi “bel” ketemu huruf apa, Bayan?”. Biarkan mereka menemukan solusinya dan bersabarlah dengan prosesnya. Jangan kuatir jika mereka belum bisa baca tulis. Emak bisa menuliskannya di kertas lain, kemudian minta mereka menirukannya di buku mereka.

Oya Emakers, penelitian menjelaskan bahwa otak anak laki-laki berbeda dengan anak perempuan. Hal tersebut mempengaruhi cara mereka belajar. Pola belajar setiap anak tidaklah sama. Anak laki-laki biasanya cenderung belajar lebih baik ketika mereka melihat gambar, grafik, ataupun gerakan yang dapat membantu mereka memahami konsep-konsep. Nah, sebaliknya anak perempuan akan cenderung mudah mempelajari sesuatu saat mereka berbicara tentang bagaimana untuk atau saat bekerja sama dengan orang lain dalam memecahkan suatu masalah. Karena itu, saat menjelaskan konsep uang pada anak perempuan, Saya memasukkan materi sosial ke Bayan. Misalnya, “…Kayak Bayan seneng kan kalau main sama anak Kelas Sakuranbo? Sama Yoga Kun, Abdul Kun, Chika Chan, Hinori Chan”. Materi ini menarik buat anak perempuan, terutama anak berkarakter suka berteman. Emak bisa menggunakan pendekatan berbeda sesuai sifat dan minat anaknya yaa…

Matematika menyenangkan, kan?

PS:

sumber gambar celengan dari link ini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s